VOICEOFJATIM – Perayaan 75 tahun Kolese Santo Yusup atau yang dahulu dikenal sebagai Hua-Ind tak sekadar nostalgia. Di bawah tema Odyssey of Light: 75 Years of Legacy, ribuan orang memadati arena pentas seni yang menjadi bagian dari rangkaian panjang peringatan tiga persimpangan abad sekolah tersebut. Lebih dari 5.000 peserta dan tamu hadir, menandakan antusiasme yang tak main-main.
Ketua Panitia 75 Tahun Hua-Ind, Maria Margaretha ASP, menjelaskan bahwa peringatan ini bukan acara satu malam. Rangkaian kegiatan telah dimulai sejak 19 Maret 2025 melalui pencanangan kepanitiaan dan berbagai agenda pendukung. “Perjalanan ini panjang. Kami ingin setiap tahap punya makna, bukan sekadar seremoni,” ujarnya.

Pada 12 Oktober 2025 lalu, sekolah menggelar jalan sehat di kawasan Araya, Malang, yang melibatkan siswa, guru, alumni, hingga masyarakat sekitar. Sekitar 5.000 orang ambil bagian. Di sela-sela rangkaian itu, panitia juga menyelenggarakan dua kali donor darah. Sementara di internal sekolah, diadakan rekoleksi dan ziarah bagi guru dan karyawan sebagai ruang refleksi.
Pentas seni yang digelar kali ini menjadi panggung ekspresi sekaligus ruang mengenang. Bukan hanya talenta siswa yang tampil, tetapi juga kilas balik sejarah sekolah sejak berdiri hingga kini. Para guru dan karyawan yang telah pensiun ikut diwawancarai untuk memberikan pesan kepada generasi sekarang. “Supaya hari ini menikmati hasil tahu, ada jerih payah para pendahulunya di belakangnya,” kata Maria.
Momentum ini juga ditandai dengan peluncuran film sejarah sekolah. Selain itu, panitia menyiapkan dua buku: buku refleksi perjalanan 75 tahun yang memuat kisah guru, karyawan, dan siswa; serta buku kenangan berisi sejarah dalam bentuk dokumentasi visual. Tak hanya itu, diterbitkan pula buku khusus memperingati 50 tahun Imamah Romo Hilarius.
Mars sekolah pun mengalami penyesuaian lirik. Jika sebelumnya menyebut Kota Malang sebagai tempat bersemayam, kini lirik diperbarui karena Kolese Santo Yusup tak hanya hadir di Malang, tetapi juga di Bali. Perubahan itu, menurut Maria, mencerminkan perkembangan yang melampaui batas geografis awalnya.

Total partisipasi, panitia menyediakan 5.000 undangan. Sekitar 3.000 di antaranya untuk siswa serta guru dan karyawan. Sisanya dijual kepada alumni, orang tua, dan masyarakat umum. Harga tiket masuk ditetapkan Rp25 ribu untuk siswa yang kemudian dikembalikan dalam bentuk makan malam, dan Rp50 ribu untuk umum. “Antusiasmenya luar biasa. Semua undangan habis,” ungkap Maria.
Pengaturan peringatan belum selesai. Setelah Idulfitri, akan diadakan Hari Pelindung Sekolah. Pada tanggal 7 hingga 8 April, diadakan kegiatan yayasan kekeluargaan bagi guru dan karyawan. Puncaknya diadakan pada tanggal 8 Agustus 2026, bertepatan dengan tanggal 8/8/26. Agenda tersebut meliputi misa syukur 75 tahun sekolah, misa syukur 50 tahun imamat Romo Hilarius, serta temu kangen alumni lintas angkatan.
Ketua Yayasan Kolese Santo Yusup, RP Agustinus Lie, CDD, menyebut tema Odyssey of Light sebagai simbol perjalanan panjang lembaga ini. Menurutnya, sekolah berdiri 75 tahun lalu di tengah situasi sosial-politik yang penuh dinamika. “Saat itu, kehadiran Kolese Santo Yusup menjadi pelita. Ke depan, kami ingin bukan hanya pelita, tapi api yang terus menyala,” katanya.
Ia menekankan empat nilai utama yang akan terus dikobarkan: pendidikan, iman, karakter, dan persaudaraan. Di tengah dunia pendidikan yang dinilainya semakin terpolarisasi, sekolah ingin tetap menjadi ruang belajar yang inklusif. Dalam hal iman, ia menegaskan bahwa perbedaan tidak boleh merusak persatuan. “Iman adalah penghayatan pribadi, bukan alasan untuk mencabik kesatuan,” tegasnya.
Kolese Santo Yusup selanjutnya menjadi miniatur Nusantara karena menghimpun siswa dari berbagai daerah. Setiap dua tahun, sekolah mengadakan program Pelangi Bangsaku untuk memperkuat wawasan kebangsaan. “Kami mungkin tidak hadir di seluruh Indonesia, tetapi murid-murid kami yang membawa cahaya itu ke mana pun mereka pergi,” ujar Agustinus.
Memasuki usia ke-75, Kolese Santo Yusup menatap 100 tahun dengan optimisme. Harapannya sederhana namun tegas: tetap menjadi pilihan studi, tetap relevan, dan tetap menyala. Bukan sekedar sebagai institusi pendidikan, namun sebagai ruang yang membentuk masa depan dan karakter generasi berikutnya.
















Leave feedback about this