Oleh: Yohanes A., Dian N., Syifa K., Zhifora A., Salwa M
VOICEOFJATIM – Beberapa bulan lalu dunia TikTok sempat digemparkan oleh seorang pengguna yang viral karena membagikan video kesehariannya dengan nafkah 10 ribu saja. Pernyataan bahwa uang 10 ribu dapat mencukupi kebutuhan keluarga untuk sehari mendapat banyak respon geram dari warganet. Di balik respon berupa stitch dan komentar tajam, sebenarnya tersimpan ancaman stereotip gender yang menekan perempuan sekaligus menimbulkan risiko serius bagi pemenuhan gizi keluarga.
Seperti Apa Tren “10 Ribu di Tangan Istri yang Tepat”?
Sebuah akun TikTok mendapat atensi dan viral belakangan ini akibat opening video yang mengatakan, “Dikasih uang belanja cuma 10 ribu per hari dan masih bisa menabung sudah bisa disebut istri yang tepat belum ya?”
Konten selanjutnya menampilkan aktivitas memasak dengan bahan seadanya dan minim gizi. Pada beberapa video, pemilik akun juga menyebutkan bahwa ia tengah hamil dan menerima PMT (Pemberian Makanan Tambahan), sebuah program untuk ibu hamil dengan gizi kurang dan berisiko stunting. Ia juga menyatakan bahwa suaminya merupakan perokok aktif, yang mana harga rokok lebih mahal daripada uang belanja yang ia jadikan konten “10 Ribu di Tangan Istri yang Tepat”.
Hal ini memicu banyak reaksi dari warga TikTok. Di saat pemilik akun menerima PMT dan suaminya memberi uang belanja lebih sedikit daripada uang rokok, ia justru merasa dirinya sudah menjadi “istri yang tepat”. Warganet lalu ramai membandingkan kondisi mereka:
“Aku yang per harinya 100–200 ribu kadang nggak cukup.”
“Jajan anak SD aja 25 ribu per hari.”
“Kalau 10 ribu cukup di tangan istri yang tepat, terus aku istri apaan?”
Seorang pengguna lain membagikan kisah serupa dan dampaknya:
“Waktu hamil 2016 Sy kurang gizi, suami buat beli rokok ada duitnya, buat sy makan 50rb 3 hari, lahir anak premature & tumbuh besar ADHD.”
Komentar tersebut semakin membuat warganet geram sekaligus khawatir dengan kondisi kehamilan pemilik akun TikTok yang mengunggah tren ini.
Bagaimana Respon Publik?
Sejumlah warganet, khususnya sesama wanita, merasa tidak relate dengan pernyataan tersebut. Banyak yang menilai suami pemilik akun sebagai lelaki mokondo yang hanya bermodalkan cinta tanpa usaha memenuhi gizi keluarga secara layak.
Beberapa selebgram TikTok juga mengomentari betapa mustahilnya hidup di zaman yang serba mahal hanya dengan 10 ribu per hari, apalagi untuk keluarga beranggotakan tiga orang.
“Kalau di gue uang 10 ribu cuma dapet beras seliter, belum lagi anak berhentiin kang somay depan, belum lagi mertua minta dibayarin COD gamisnya. Uang sepuluh ribu per hari tuh gak cukup,” ucap salah satu selebgram dengan nada ketus.
Namun, tren ini justru menjadi tantangan bagi sebagian ibu-ibu yang mencoba membuktikan bahwa 10 ribu bisa cukup. Nyatanya, banyak yang gagal atau berakhir menjadikan tren ini sebagai konten komedi karena tertekan harus mencukup-cukupkan uang sambil menahan kebutuhan lain.
Kabar buruknya, banyak laki-laki, bahkan suami yang sudah menikah, ikut terpengaruh dan beranggapan bahwa istrinya boros jika menghabiskan uang lebih dari 10 ribu. Meski ada juga suami yang realistis dan menghargai kerja keras istrinya, tetap saja tren ini menimbulkan tekanan tambahan bagi perempuan dalam mengelola keuangan rumah tangga.
Apakah Benar-benar Bikin Malnutrisi?
Bentuk malnutrisi yang terlihat sejauh ini justru tampak dari pemilik akun TikTok sendiri, yang pada usia kehamilan cukup tua masih menerima PMT, bantuan khusus untuk ibu hamil dengan gizi kurang hingga buruk.
Tren ini secara tidak langsung menormalisasi keterbatasan gizi sebagai “ketangguhan perempuan”, padahal justru menjadi alarm adanya kurangnya edukasi pencegahan malnutrisi dan minimnya upaya pemenuhan gizi keluarga. Meski demikian, belum ada laporan eksplisit yang menyebutkan adanya korban malnutrisi akibat meniru konten tersebut.
Persepsi Gender & Beban Berat IRT
Di balik narasi “istri yang tepat”, tersimpan stereotip gender yang menekan perempuan. Ibu rumah tangga dituntut mampu menyulap keterbatasan menjadi kecukupan, seolah-olah kesejahteraan keluarga sepenuhnya bergantung pada kecerdikan perempuan dalam mengatur uang belanja.
Seorang pengguna TikTok menulis:
“Ngasih duit dikit kalo ga cukup bini yang disalahin, ntar dicukup-cukupin terus anaknya kecil kurus kena semprot ama mertua, repot dah repot.”
Dalam budaya patriarki yang kuat di banyak masyarakat, termasuk Indonesia, perempuan ditempatkan sebagai pengatur domestik: mereka harus sabar, hemat, dan bisa menyulap kekurangan. Ekspektasi sosial ini melahirkan pandangan bahwa perempuan yang baik adalah yang mampu mengatur keuangan dengan efisien, padahal peran kepala keluarga dalam memenuhi kebutuhan juga sangat krusial.
Tren ini menunjukkan bahwa isu gizi keluarga tidak dapat dipisahkan dari konstruksi sosial peran gender. Mengatasi malnutrisi berarti sekaligus mengatasi ketidakadilan gender. Respon kritis warganet menjadi langkah penting untuk mencegah normalisasi stereotip destruktif semacam ini.
Akhirnya…
Jadi, apakah kita akan terus mengagungkan “10 Ribu di Tangan Istri yang Tepat”?
Atau mulai menuntut kesetaraan dan pemenuhan gizi yang layak?
Yuk, pikirkan lagi sebelum ikut tren.











