Danyang Wingit Jumat Kliwon : Horor Okultisme di Balik Panggung Wayang: Ambisi, Tumbal Terakhir, dan Perlawanan Pada Kuasa Gelap

VOICEOFJATIM – Jagat pedalangan Jawa, dengan segala ritus tua yang biasanya bersemayam di balik kelir, kembali diseret ke terang layar bioskop. Melalui Danyang Wingit Jumat Kliwon, Khanza Film Entertainment mengirimkan horor yang tak cuma bermain pada teriakan, tapi mengekstrak kengerian dari mitologi, benda pusaka, dan hasrat manusia yang nekat menembus batas hidup dan mati.

Agus Riyanto, yang mengambil peran rangkap sebagai sutradara sekaligus produser, menyorot sisi paling gelap dari seni wayang. Naskah Dirmawan Hatta menjahit legenda lokal menjadi potret urban yang gelap, kokoh, dan mengusik batin.

Di poros kisahnya berdiri Ki Mangun Suroto (Whani Darmawan), dalang karismatik yang terobsesi dengan kemasyhuran, lalu tergelincir pada ambisi menjinakkan ajal. Padepokannya menjadi laboratorium ilmu kuno, tempat satu ritual terlarang menunggu tumbal terakhir.

Citra (Celine Evangelista) masuk ke lingkaran itu pada 2021. Keponakan Mbok Ning (Djenar Maesa Ayu) ini datang sebagai sinden baru, di permukaan hanya bagian estetika pertunjukan. Namun gema gamelan menyimpan kebenaran lain: dirinya telah “disiapkan” untuk persembahan menuju ritual keabadian.

Motivasi Citra sederhana namun menghantam: ia butuh uang untuk pengobatan adiknya, Dewi (Aisyah Kanza). Tekanan ekonomi dan rasa takut pada hal tak kasat mata beradu seperti dua ombak yang tak pernah mereda.

Pada titik tertentu, Bara (Fajar Nugra), penjaga padepokan, mulai menangkap kejanggalan yang tak bisa ia diamkan. Pemberontakannya menyalakan bara konflik, menyeret mereka ke satu malam puncak: Gerhana Bulan Merah yang jatuh tepat pada Jumat Kliwon, malam yang dalam kepercayaan Jawa dianggap paling keramat.

Celine Evangelista mengaku proyek ini jadi lintasan paling berat dalam kariernya. Bukan hanya karena ia harus menghidupkan karakter sinden Jawa, tapi karena tembang yang ia bawakan memuat mantra buatan khusus untuk film. “Nada sinden itu ada mantranya, jadi harus ekstra hati-hati,” ungkapnya saat ditemui usai promo di Bioskop Plaza Araya, Sabtu (22/11/2025).

Ia menambahkan bahwa tiap proses rekaman maupun syuting selalu didampingi orang yang paham dan dipercaya menjaga jalannya ritual vokal tersebut. Menurut tim, mantra itu bisa memicu energi tertentu jika diucapkan dalam kondisi yang pas, dan Celine mengaku merasakannya sendiri.

Begitu baitnya mulai mengalir, suasana set berubah: percakapan padam, udara mengeras, dan seluruh kru seolah menahan napas. Sensasi ganjil itu membuat film ini, baginya, bukan sekadar horor yang mengandalkan efek, melainkan pengalaman yang menguji mental para pemainnya.

Celine menekankan bahwa film ini merupakan interpretasi modern dari cerita yang sudah lama hidup di masyarakat Jawa: legenda wayang kulit, kepercayaan tentang pembuatan wayang dari kulit musti, dan keyakinan mengenai sinden yang diyakini memiliki kekuatan tertentu. “Kita bikin versi yang lebih modern supaya anak muda bisa nyambung. Tapi garis ceritanya tetap sama, berangkat dari kepercayaan setempat yang udah hidup turun-temurun,” tambahnya.

Arah film ini tidak hanya menyorot dunia pedalangan, tetapi juga pergulatan batin mengenai kekuasaan, takdir, dan martabat manusia. Penonton diajak masuk ke ruang sunyi seorang dalang yang dikuasai ambisi abadi, sembari mengikuti perjalanan seorang perempuan yang harus memilih antara hidup, keluarga, dan ritual kuno yang menjeratnya.

Film ini juga didukung jajaran pemain lain: Nathalie Holscher sebagai Putri Kusuma Ratih, disusul Norma Cinta, Dimas Tedjo, Putri Maya Rumanti, Angga Wijaya, Keona Cinta, dan Bilqis Hafsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *