Dua Dokter UB Pulang dari Gaza, Bawa Luka Kemanusiaan dan Pelajaran Hidup

MALANG, VOICEOFJATIM.COM – Misi kemanusiaan selama dua pekan di Jalur Gaza tak hanya meninggalkan jejak pengabdian bagi dua dokter dari Universitas Brawijaya (UB), tetapi juga meninggalkan bekas mendalam yang tak mudah dihapuskan dari hati mereka.

Dr. Mohammad Kuntadi Syamsul Hidayat dan Dr. Ristiawan Muji Laksono, dua dosen Fakultas Kedokteran UB, baru saja kembali ke tanah air setelah terjun langsung membantu para korban konflik di Palestina. Selama berada di sana, mereka menjadi saksi hidup dari realitas yang tak tertangkap kamera: anak-anak berlumur darah, kelaparan merajalela, dan rumah sakit yang hampir lumpuh total.

Kedua dokter ini tergabung dalam tim relawan Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) dan terhubung dengan organisasi kemanusiaan Rahmah Worldwide. Selama di Gaza, mereka ditugaskan di dua rumah sakit yang masih beroperasi—RS An-Nasr dan RS Eropa—yang kondisinya jauh dari layak.

“Kami ke sana bukan karena nekat, tapi karena panggilan hati. Kalau kita punya kemampuan, lalu diam saja saat orang lain menderita, maka kita kehilangan sisi kemanusiaan kita,” ucap Dr. Kuntadi dengan mata berkaca-kaca.

Baginya, perjalanan ke Gaza merupakan pengalaman yang mengguncang. Meski telah lebih dari 30 tahun menjalani profesi dokter, ia mengaku belum pernah menyaksikan penderitaan sedalam itu. Salah satu momen paling menyayat hati terjadi saat ia menangani balita yang terkena tembakan peluru dan berlumuran darah.

Tak kalah pilu, Dr. Ristiawan menjelaskan bagaimana RS An-Nasr dan RS Eropa harus beroperasi dalam kondisi keterbatasan ekstrem. Kapasitas pasien meningkat lebih dari dua kali lipat, ruangan perawatan darurat berdiri di tenda, dan obat-obatan modern digantikan dengan jenis lama yang jarang digunakan.

“Standar medis kami runtuh di sana. Obat langka, air bersih pun terbatas. Kami melakukan tindakan medis dengan alat dan fasilitas seadanya,” kata Dr. Ristiawan, menggambarkan betapa beratnya kondisi lapangan.

Deru bom dan asap tak pernah benar-benar pergi dari langit Gaza. Bahkan saat mereka bekerja, suara dentuman dan ancaman sniper menjadi bagian dari rutinitas yang menakutkan. Para dokter dan tenaga medis harus tetap bertahan meski perut kosong dan nyawa jadi taruhan.

“Bayangkan, tenaga medis pingsan karena tak makan dua hari. Seorang dokter spesialis bahkan harus diinfus. Kami sampai membagi satu permen kopiko untuk beberapa orang. Mereka menerimanya dengan penuh haru,” kisah Dr. Ristiawan.

Selama dua minggu di Gaza, mereka tidak pernah meninggalkan area rumah sakit. Aktivitas sangat terbatas karena pengawasan militer dan ancaman penembak jitu. Bahkan menyebut nama organisasi atau membuka ponsel pun bisa jadi bumerang.

“Saya percaya, ini bukan keputusan yang tiba-tiba. Ini bagian dari rencana Tuhan. Ketika kesempatan datang, saya langsung menyambut tanpa pikir panjang. Bahkan belum sempat izin keluarga,” ujar Dr. Kuntadi.

Mereka berdua sepakat bahwa misi ini bukan hanya soal profesi, melainkan soal menjadi manusia untuk manusia lain. Dr. Ristiawan bahkan sempat menyaksikan warga sipil yang kurus dan lemah meminta makanan di pinggir jalan.

“Mereka kelaparan, tapi tidak menunjukkan kemarahan. Hungry but not angry,” ungkapnya.

Misi kemanusiaan ini menjadi pengingat bahwa empati bisa melampaui batas negara dan keahlian. Keduanya berharap masyarakat Indonesia tidak tutup mata terhadap penderitaan rakyat Palestina. Menurut mereka, bantuan tidak selalu berbentuk uang atau keterampilan. Hadir, peduli, atau bahkan sekadar doa pun punya makna besar.

“Ilmu itu seharusnya mengabdi pada kemanusiaan. Dan kampus bukan hanya tempat belajar, tapi juga tempat lahirnya keberanian, solidaritas, dan kesadaran global,” tutup Dr. Kuntadi.

Sepulang dari Gaza, keduanya bukan hanya kembali sebagai dokter, tetapi sebagai penyampai pesan: bahwa di balik reruntuhan, masih ada harapan. Dan bahwa kemanusiaan adalah bahasa universal yang harus terus dijaga.

Leave feedback about this

  • Rating