Penutupan Meriah Pasar Takjil Ketawanggede, Kupon Belanja Berbuah Rice Cooker hingga Mesin Cuci

VOICEOFJATIM – Penutupan Pasar Takjil Ramadan di kawasan Ketawanggede, Sabtu (14/3/2026), berlangsung dengan suasana berbeda. Tidak hanya dipenuhi aroma gorengan, kolak, dan aneka hidangan berbuka, kawasan tersebut juga dipadati warga yang menantikan momen pengundian hadiah dari kupon belanja yang mereka kumpulkan selama Ramadan.

Sejak sore, warga dan para pedagang sudah berkumpul di sekitar lokasi pasar. Sebagian menggenggam kupon undian sambil menunggu nama mereka disebut. Sorak-sorai sesekali terdengar ketika kupon yang diambil dari kotak undian memunculkan pemenang baru.

Bagi banyak pengunjung, kupon tersebut bukan sekadar potongan kertas hasil transaksi. Ia menjadi bagian dari tradisi kecil yang tumbuh selama hampir satu bulan pasar Ramadan berlangsung, mempertemukan pedagang, panitia, dan warga dalam satu ruang kebersamaan.

Ketua RW 02 Ketawanggede, Firman Qusnul Arif, menjelaskan bahwa pengundian hadiah menjadi penutup rangkaian kegiatan Pasar Takjil Ramadan 2026 yang digelar selama lebih dari tiga pekan.

“Penutupan pasar Ramadan ini kami rangkai dengan pengundian hadiah untuk pengunjung. Totalnya ada sekitar 70 hadiah yang disiapkan,” ujarnya.

Puluhan hadiah tersebut berupa perlengkapan rumah tangga yang dekat dengan kebutuhan sehari-hari warga. Di antaranya rice cooker, kipas angin, kompor gas, termos, hingga hadiah utama berupa mesin cuci.

Hadiah-hadiah itu menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung. Tidak sedikit warga yang sengaja menyimpan kupon belanja mereka hingga hari terakhir, berharap keberuntungan datang saat pengundian berlangsung.

Menariknya, seluruh hadiah yang dibagikan berasal dari swadaya warga dan pengelolaan internal pasar. Tidak ada dukungan dari sponsor besar ataupun perusahaan.

Firman menyebut, dana hadiah dikumpulkan dari iuran pedagang serta kontribusi warga yang memiliki usaha di lingkungan sekitar.

“Hadiah ini murni dari pengelolaan pasar dan swadaya warga. Beberapa warga yang memiliki usaha juga ikut berpartisipasi membantu,” katanya.

Skema undian dibuat sederhana agar pengunjung mudah berpartisipasi. Setiap transaksi minimal Rp50 ribu di area pasar akan mendapatkan satu kupon undian, sementara pembelian dengan nominal lebih besar memperoleh kupon sesuai kelipatan nilai belanja.

Proses pengundiannya pun dibuat terbuka. Panitia hanya menyiapkan fasilitas, sementara kupon diambil langsung oleh peserta yang hadir.

“Kami hanya memfasilitasi. Kuponnya diambil sendiri oleh peserta agar lebih transparan,” ujar Firman.

Selama 24 hari pelaksanaan pasar Ramadan, panitia mencatat sekitar 386 kupon undian terkumpul dari para pengunjung. Sementara itu, setiap hari rata-rata sekitar 600 kupon beredar dari aktivitas transaksi di area pasar.

Dari perhitungan tersebut, perputaran uang di Pasar Takjil Ketawanggede diperkirakan mencapai Rp10 juta hingga Rp12 juta per hari. Angka tersebut menunjukkan geliat ekonomi warga yang cukup terasa selama Ramadan.

Pasar Takjil Ketawanggede sendiri telah berjalan selama tiga tahun terakhir dan kini menjadi agenda tahunan yang dinanti masyarakat setempat. Bahkan di luar Ramadan, aktivitas pasar tetap berlangsung setiap Minggu sebagai ruang bagi warga untuk berdagang.

Meski begitu, para pedagang masih menghadapi kendala klasik, yakni belum adanya lokasi berdagang yang permanen. Akibatnya, mereka kerap berpindah tempat ketika pasar tidak digelar.

“Harapan kami ke depan ada fasilitas tempat khusus dari pemerintah, karena berdagang ini menjadi mata pencaharian utama mereka,” ungkap Firman.

Menurutnya, keberadaan ruang usaha yang lebih tertata akan membantu para pelaku usaha kecil tetap bertahan tanpa harus berpencar di berbagai sudut jalan.

Di sisi lain, panitia juga mulai menyiapkan pengembangan kegiatan untuk Ramadan tahun depan. Salah satunya dengan meningkatkan nilai hadiah serta menjajaki kerja sama dengan sponsor agar kegiatan bisa berlangsung lebih berkelanjutan.

“Tahun depan kami ingin hadiahnya lebih besar dan mulai mencari sponsor tetap,” kata Firman.

Bagi warga Ketawanggede, hadiah dari pengundian itu memang menarik. Namun yang paling berkesan dari Pasar Takjil Ramadan bukan sekadar rice cooker, kipas angin, kompor, atau mesin cuci. Pasar sederhana tersebut telah menjadi ruang pertemuan warga setiap sore, tempat transaksi kecil berubah menjadi cerita tentang kebersamaan yang terus hidup dari Ramadan ke Ramadan.

Leave feedback about this

  • Rating