VOICEOFJATIM – Predikat internasional bukan sekadar label prestise. Ia adalah tantangan sekaligus peluang. Kesadaran itulah yang mendorong mahasiswa Universitas Bakrie turun langsung ke Kota Malang, menguatkan strategi komunikasi kota setelah Malang resmi masuk jejaring UNESCO sebagai City of Media Art.
Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertema penguatan city branding, mahasiswa Universitas Bakrie berupaya menjembatani konsep Media Arts dengan realitas ekosistem kreatif lokal. Kegiatan ini menjadi bentuk kontribusi akademik dalam merespons momentum global yang kini melekat pada identitas Kota Malang.

Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie, Eli Jamilah Miharja, S.S., M.Si., Ph.D., CICS, menjelaskan bahwa pengakuan UNESCO sebagai bagian dari UNESCO Creative Cities Network di bidang Media Arts merupakan titik balik penting bagi Malang. Status tersebut, menurutnya, bukan hanya membuka peluang visibilitas internasional, tetapi juga menuntut kesiapan strategi komunikasi kota yang konsisten, kolaboratif, dan berjangka panjang.
“Pengakuan global ini harus diikuti dengan penguatan sumber daya manusia, sinergi lintas sektor, serta narasi kota yang jelas dan berkelanjutan,” ujarnya dalam rangkaian kegiatan tersebut.
Program PkM ini digelar pada 21 hingga 23 November 2025 dengan menggandeng Pemerintah Kota Malang dan Malang Creative Fusion (MCF) sebagai mitra strategis. Metode yang digunakan tidak bersifat seremonial, melainkan partisipatif, mulai dari Focus Group Discussion, wawancara mendalam, hingga diskusi terbuka bersama pelaku komunitas kreatif, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya.
Fokus utama kegiatan diarahkan pada peningkatan pemahaman komunitas kreatif terhadap Media Arts sebagai identitas kota, penguatan literasi digital, serta dorongan produksi konten kreatif yang berakar pada kearifan lokal. Di saat yang sama, kegiatan ini juga menjadi ruang temu antara kampus, komunitas, dan pemerintah dalam membangun jejaring kolaborasi yang lebih solid.
Hasil pendampingan menunjukkan bahwa komunitas kreatif Malang menyimpan potensi besar sebagai motor utama city branding. Diskusi yang terbangun membantu peserta melihat Media Arts bukan sekadar medium ekspresi, tetapi juga instrumen strategis untuk membangun citra kota, memperkuat narasi publik, sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif berbasis inovasi.
Wakil Ketua Komite Ekonomi Kreatif Kota Malang, Vicky Arief Herinadharma, menilai kegiatan ini selaras dengan agenda pembangunan berkelanjutan. Ia menyebut bahwa penguatan kapasitas komunitas kreatif beririsan langsung dengan tujuan global, khususnya peningkatan kualitas pendidikan, pertumbuhan ekonomi kreatif, serta pengembangan kota yang inklusif.
“Kegiatan seperti ini memberi kontribusi nyata terhadap pencapaian SDGs, terutama pendidikan berkualitas, pekerjaan layak, dan pembangunan kota berkelanjutan,” ungkapnya.

Koordinator kegiatan menegaskan bahwa PkM ini tidak berhenti pada capaian akademik semata. Lebih dari itu, program dirancang untuk memberi dampak sosial yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. “Kami ingin menjadikan kegiatan ini sebagai ruang belajar bersama, sekaligus memperkuat peran mahasiswa sebagai agen perubahan dalam membangun city branding Kota Malang di level global,” tuturnya.
Ke depan, mahasiswa Universitas Bakrie mendorong agar kolaborasi antara perguruan tinggi, komunitas kreatif, dan pemerintah daerah terus dijaga secara berkesinambungan. Dengan kerja bersama yang konsisten, predikat City of Media Art dari UNESCO diharapkan tidak hanya menjadi simbol, tetapi juga fondasi nyata bagi pembangunan Kota Malang yang kreatif, inklusif, dan berdaya saing global.
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini merupakan bagian dari pembelajaran mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie dalam mata kuliah Komunikasi Digital dan Sosiologi Media, dengan fokus pada strategi komunikasi kota, penguatan city branding, serta pemberdayaan komunitas kreatif sebagai aktor utama perubahan.
















Leave feedback about this