Dalam teori Tabulasa John Lock dinyatakan bahwa anak lahir seperti kertas putih, tergantung siapa yang akan memberi warna atau catatan. Artinya, bahwa anak tidak memiliki potensi apa-apa dan pasif. Ibarat gelas kosong juga. Sementara teori Plato mengatakan, bahwa realitas (being) itu ada karena akal-pikiran kita (mind). Teori ini kemudian dikembangkan oleh para pengikutnya seperti Rene Descartes dengan diktum populernya: cogito argo sum (aku ada karena aku berpikir). Dan akhirnya juga berkembang diktum lain: Kamu adalah apa yang kamu pikirkan. Ternyata-olah teori-teori ini sama dengan teori Islam. Padahal ini berbeda.
Dalam konsep Islam, anak lahir sudah memiliki potensi atau energi positif. Ibarat baterai sudah ada isinya. Tinggal men-charge lebih (full charge). Intinya maka hakikat pendidikan adalah mengembangkan potensi: mengasuh, merawat dan mengembangkan potensi sampai menjadi manusia yang berpengetahuan dan terdidik dengan baik. Maka terminologi tarbiyah itu berasal dari kata Raba-yarbu-rabban, rububiyatan atau Rabba-yurabbi-tarbiyatan. Seperti sifat rububiyyah Tuhan yang memelihara alam jagad raya ini.
Namun karena perkembangan zaman dan semakin dewasanya anak-anak, sehingga pengaruh luar tidak bisa dibendung, banyak virus dan energi negatif yang masuk. Sehingga manusia tidak bisa mengelak dari dosa. Maka kemudian Nabi mengingatkan: “Setiap anak Adam itu berdosa dan sebaik-baik orang yang berdosa itu bertaubat (Kullu Bani Adama khatthaun wa Khair al-Khtthaina at-Tawwabun).
Pada hakikatnya Idul Fitri itu merupakan reformasi tahunan (tajdid sanawi) atau pemutihan diri. Namun semua itu masih bersifat vertikal ke ranah teologis, belum ke ranah sosiologis. Maka belum tuntas, dan ini harus disempurnakan dengan saling memafkan dengan satu sama lain. Salah satunya melalui halal bi halal, yang merupakan realisasi dari wal ‘afinan ‘aninnas (QS. Ali Imran : 133).
Tajdid Sanawi (Reformasi Tahunan)
















Leave feedback about this