MALANG – Kuliner tradisional tak hanya soal rasa. Di kawasan wisata Kampoeng Heritage Kajoetangan, makanan juga menjadi bagian dari cerita yang dapat ditawarkan kepada wisatawan.
Persoalannya, sejumlah kuliner khas Malang mulai semakin jarang ditemui. Kondisi itu mendorong dosen STIE Malangkuçeçwara (ABM), Lidia Andiani, S.E., M.M., memberikan pendampingan kepada Pokdarwis Kampoeng Heritage Kajoetangan melalui pengenalan kembali orem-orem.

Pelatihan tersebut berlangsung Selasa (15/9/2026). Orem-orem dipilih bukan semata karena merupakan makanan khas Kota Malang, tetapi karena kuliner berbahan dasar tempe itu menyimpan cerita mengenai pola konsumsi dan ketahanan pangan masyarakat pada masa lalu.
Lidia menjelaskan, orem-orem memiliki keterkaitan dengan kondisi sosial serta ketersediaan bahan pangan masyarakat. Berdasarkan buku Serat Centhini yang ia rujuk, perkembangan orem-orem berkaitan dengan masa pendudukan Jepang ketika kondisi ketahanan masyarakat sedang tidak baik.
“Berdasarkan buku Serat Centhini, orem-orem berkembang pada masa pendudukan Jepang, dimana saat itu ketahanan masyarakat dalam kondisi tidak baik dan memanfaatkan tempe sebagai bahan baku yang ada,” ujar Lidia saat memberikan pelatihan kepada Pokdarwis Kampoeng Heritage Kajoetangan.
Dalam konteks tersebut, tempe bukan sekadar bahan makanan. Bahan pangan itu telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Malang. Bahkan, Malang memiliki karakteristik tempe sendiri, salah satunya tempe kacang.
Orem-orem kemudian berkembang menjadi hidangan dengan bahan yang relatif sederhana. Tempe dipotong kecil-kecil dan disajikan bersama ketupat atau lontong, kemudian disiram kuah santan berbumbu.
Bumbu yang digunakan antara lain bawang, kemiri, ketumbar, cabai, jeruk purut, garam, gula, serta bahan pelengkap lainnya. Sebelum dimasak bersama bumbu, tempe biasanya dikukus terlebih dahulu.
Namun, perkembangan selera konsumen membuat orem-orem mengalami perubahan. Hidangan yang awalnya berbasis tempe kemudian disajikan dengan tambahan ayam, udang, dan berbagai lauk lainnya.
“Awalnya makanan ini berbahan tempe saja secara sederhana, namun seiring berkembangnya waktu, makanan ini naik level,” kata Lidia.
Perubahan tersebut, menurut dia, dapat menjadi bagian dari strategi memperkenalkan kembali orem-orem kepada generasi sekarang. Variasi lauk dan topping membuat hidangan tradisional itu lebih mudah diterima tanpa harus menghilangkan karakter utamanya.
“Orem-orem yang ditambahi topping atau lauk itu lebih masuk ke lidah generasi sekarang, terutama Gen-Z,” ujarnya.
Bagi pelaku wisata di Kajoetangan, persoalan kuliner tradisional menjadi lebih luas karena berkaitan dengan pengalaman wisata yang ditawarkan kepada pengunjung. Kuliner dapat menjadi bagian dari identitas kawasan sekaligus pintu masuk untuk mengenalkan sejarah dan budaya lokal.
Lidia juga melihat orem-orem sebagai salah satu bentuk inovasi masyarakat dalam mengolah tempe. Dari bahan sederhana yang tersedia di lingkungan sekitar, lahir kreasi makanan yang kemudian berkembang menjadi salah satu kuliner khas Kota Malang.
“Orem-orem adalah bukti masyarakat memanfaatkan bahan seadanya, bahkan tempe yang sederhana, dan secara berkelanjutan ini menjadi kuliner khas Kota Malang,” ungkapnya.
Pendampingan kepada Pokdarwis Kampoeng Heritage Kajoetangan itu sekaligus mempertemukan pengetahuan akademik dengan kebutuhan pelaku wisata. Sejarah, bahan pangan lokal, perubahan selera hingga peluang pengembangan produk kuliner menjadi bagian yang dapat digali untuk memperkuat daya tarik wisata kawasan tersebut.
Terlebih, keberadaan orem-orem kini semakin jarang ditemui. Karena itu, kolaborasi dengan Pokdarwis Kampoeng Heritage Kajoetangan diharapkan dapat menjadi salah satu jalan untuk mengenalkan kembali makanan tersebut kepada masyarakat sekaligus membuka ruang pengembangannya sebagai bagian dari pengalaman wisata di Kota Malang.














