VOICEOFJATIM – Petani kopi di Dusun Wonorejo, Desa Sukodono, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, Jawa Timur, selama ini menghasilkan panen melimpah dengan kualitas yang telah teruji baik. Namun, sebagian besar dari mereka masih terkendala minimnya literasi digital, khususnya dalam memanfaatkan marketplace dan pemasaran daring untuk menjual hasil bumi tersebut.
Menjawab persoalan itu, tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Negeri Malang (UM) 2026 Kelompok “Sekarsa Kopi” menggelar Sosialisasi Digitalisasi Kopi di Dusun Wonorejo, Desa Sukodono, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang. Kegiatan ini menghadirkan narasumber Reza Pahlevi dengan tujuan mendorong komoditas kopi lokal agar mampu menembus pasar nasional.

Selama ini, pemasaran kopi di Dusun Wonorejo masih bergantung pada sistem konvensional dan perantara, sehingga nilai jualnya belum optimal. Padahal dari segi kualitas, kopi asal Desa Sukodono ini tidak kalah bersaing dengan produk dari daerah-daerah penghasil kopi yang sudah lebih dulu dikenal luas.
Melihat kondisi tersebut, Reza Pahlevi membawakan materi secara praktis agar mudah dipahami oleh masyarakat awam. Ia menegaskan bahwa adopsi teknologi menjadi kunci utama agar petani dapat memegang kendali penuh atas harga jual produk mereka sendiri.
“Kendala utama yang sering kita temui di lapangan adalah rasa ragu dan ketidakpahaman teknis dalam mengoperasikan aplikasi digital. Padahal, lewat marketplace dan media sosial, petani bisa memangkas rantai distribusi yang panjang sehingga margin keuntungan yang didapat bisa jauh lebih besar,” ujar Reza Pahlevi di hadapan puluhan warga dan penggiat UMKM setempat.
Dalam sosialisasi ini, para peserta dibekali empat pilar utama transformasi digital, yaitu:
1. Pengembangan dan Pemanfaatan Website
Peserta mendapat edukasi mengenai pentingnya memiliki website resmi sebagai “rumah digital” bagi komoditas kopi Wonorejo. Website tersebut nantinya berfungsi menampilkan profil desa, cerita di balik proses budi daya kopi (storytelling), hingga katalog produk yang dapat diakses langsung oleh investor maupun pembeli berskala besar (business-to-business/B2B).
2. Pemanfaatan Marketplace dan Media Sosial
Peserta diberikan panduan dasar mengenai cara membuka toko daring, mengunggah foto produk, hingga melayani calon pembeli eceran secara langsung melalui ponsel masing-masing.
3. Pengemasan dan Pembrandingan (Branding)
Materi ini menekankan pentingnya kemasan yang rapi, higienis, dan memiliki identitas agar produk kopi memiliki daya tarik serta nilai tambah (added value) yang lebih tinggi.
4. Pencatatan Keuangan Digital
Peserta juga dikenalkan pada aplikasi keuangan sederhana untuk membantu memisahkan uang modal usaha dengan kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
Antusiasme warga tampak jelas saat sesi tanya jawab dibuka. Para petani memanfaatkan momen tersebut untuk berkonsultasi mengenai berbagai hambatan teknis yang selama ini mereka khawatirkan, mulai dari cara mengelola transaksi di website dan marketplace, hingga skema pengiriman barang kepada pembeli.
Guna memastikan sosialisasi ini membuahkan hasil nyata, Kelompok KKN UM 2026 Sekarsa Kopi berkomitmen memberikan pendampingan secara berkala kepada warga. Para mahasiswa akan terus mendampingi petani secara langsung hingga mereka benar-benar mahir mengoperasikan platform digital, baik website maupun marketplace, secara mandiri.
Melalui sinergi antara mahasiswa dan warga ini, Dusun Wonorejo, Desa Sukodono, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, diharapkan tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil kopi berkualitas, tetapi juga mampu bertransformasi menjadi desa mandiri digital yang membawa kesejahteraan bagi para petaninya.














