VOICEOFJATIM – Festival Anak Berprestasi Indonesia (FABI) XV mencatat lonjakan partisipasi yang signifikan pada penyelenggaraan tahun 2026. Ajang kompetisi akademik tingkat nasional ini diikuti lebih dari 7.000 peserta dari berbagai daerah di Indonesia, meningkat drastis dibanding tahun sebelumnya yang hanya sekitar 4.000 peserta.
Kenaikan jumlah peserta tidak hanya menunjukkan semakin besarnya daya tarik kompetisi akademik bagi pelajar, tetapi juga menjadi indikator meningkatnya kesadaran orang tua dan sekolah terhadap pentingnya membangun prestasi, karakter, dan kepercayaan diri anak sejak usia dini.


Ketua Pelaksana FABI XV, Arif Mustofa, mengatakan peningkatan tersebut dipengaruhi oleh perluasan cakupan penyelenggaraan yang kini berskala nasional. Jika pada FABI XIV seleksi hanya digelar di wilayah Jawa dan Bali, tahun ini panitia membuka kesempatan bagi peserta dari berbagai provinsi di Indonesia.
“Tahun lalu FABI diikuti sekitar 4.000 peserta. Tahun ini meningkat menjadi lebih dari 7.000 peserta dari berbagai daerah. Salah satu faktor utamanya karena cakupan seleksi yang sebelumnya hanya Jawa-Bali kini menjadi nasional,” ujar Arif.
Perluasan itu turut berdampak pada bertambahnya titik seleksi. Dari sekitar 40 lokasi pada tahun lalu, kini FABI memiliki 56 hingga 57 titik seleksi di berbagai daerah.

Menurut Arif, keputusan membuka seleksi secara nasional berangkat dari tingginya permintaan masyarakat. Banyak sekolah maupun orang tua dari luar Jawa yang mengetahui FABI melalui media sosial dan situs resmi penyelenggara, kemudian meminta agar wilayah mereka juga menjadi lokasi seleksi.
“Selama ini banyak yang bertanya mengapa provinsi mereka belum menjadi lokasi seleksi. Dari masukan itu akhirnya kami membuka kesempatan untuk daerah-daerah yang sebelumnya belum terjangkau,” katanya.
Meski peserta dari Pulau Jawa masih mendominasi, antusiasme dari luar Jawa juga mengalami peningkatan yang cukup mencolok. Kontingen Bandar Lampung, misalnya, mengirim sekitar 90 peserta. Sementara Pekanbaru mengirim lebih dari 150 peserta dan Palangkaraya sekitar 60 peserta.
Arif menilai tingginya minat tersebut menunjukkan bahwa kompetisi akademik kini tidak lagi dipandang sekadar ajang mencari gelar juara, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter dan mental peserta didik.

“Dunia pendidikan terus berkembang. Minat anak-anak untuk belajar dan mempersiapkan masa depannya juga semakin tinggi. Kompetisi seperti ini membantu membentuk mental mereka sekaligus menjadi bekal untuk meraih cita-cita di masa depan,” ungkapnya.
Selain pengalaman bertanding, peserta juga memperoleh nilai tambah berupa sertifikat kompetisi tingkat nasional. Panitia, kata Arif, mengikuti program kurasi dari Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), sehingga sertifikat bagi para peraih prestasi berpeluang dimanfaatkan sebagai salah satu pendukung saat melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.
Dari lebih dari 7.000 grand finalis yang mengikuti FABI XV, panitia akan memberikan sekitar 1.400 penghargaan berupa medali emas, perak, dan perunggu. Pada setiap kategori lomba, sekitar 120 peserta terbaik akan memperoleh medali, sementara jumlah peserta di masing-masing kategori berkisar antara 600 hingga 700 orang.
Di balik besarnya angka partisipasi itu, terdapat kisah para orang tua yang rela datang dari berbagai penjuru Indonesia demi memberi pengalaman berharga bagi anak-anak mereka.
Mardiah, orang tua peserta asal Makassar, mengaku tujuan utama membawa putrinya mengikuti FABI bukan semata-mata mengejar kemenangan.
“Juara itu nomor dua. Yang paling penting anak mendapat pengalaman dan semakin percaya diri untuk mengikuti kompetisi berikutnya,” katanya.
Ia menjelaskan putrinya baru duduk di kelas II sekolah dasar dan sebelumnya hanya pernah mengikuti perlombaan tingkat regional di Makassar. FABI XV menjadi pengalaman pertamanya mengikuti kompetisi tingkat nasional setelah lolos seleksi di daerah.
“Informasinya kami dapat dari sekolah. Setelah mengikuti seleksi di Makassar, alhamdulillah bisa lolos ke grand final,” ujarnya.
Semangat serupa juga terlihat dari Jihan, peserta asal Makassar yang mengikuti kategori Sains dan Matematika. Meski mengaku menemui soal-soal yang tidak mudah, ia tetap menikmati pengalaman tersebut.
“Soalnya ada yang sulit, ada yang mudah. Kalau nanti ada lagi, saya mau ikut lagi,” ucap Jihan dengan antusias.
Lonjakan peserta pada FABI XV memperlihatkan bahwa kompetisi akademik nasional semakin dipandang sebagai bagian dari proses pembelajaran yang melengkapi pendidikan di sekolah. Bukan sekadar berburu medali, ajang seperti ini menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengasah kemampuan, membangun keberanian, sekaligus memperluas pengalaman sejak usia dini.














