MALANG, VOICEOFJATIM.COM – Universitas Brawijaya mulai menyiapkan pola baru untuk penerimaan mahasiswa baru angkatan 2026. Tahun depan, kampus di Kota Malang itu membuka tiga jalur masuk, termasuk memberi ruang lebih luas bagi para penghafal Al-Quran maupun kitab suci agama lain.
Sekretaris Direktorat Administrasi dan Layanan Akademik UB, Arif Hidayat, menyebut total kuota mahasiswa baru masih berada di kisaran 17 ribu orang, sama seperti tahun sebelumnya. Ia menjelaskan bahwa skema tahun ini juga membawa perubahan pada pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK). UB ingin memastikan seleksi berjalan bersih dari praktik kecurangan yang belakangan marak.
Untuk jalur penerimaan, Arif mengatakan UB membuka International Undergraduate Program (IUP) yang saat ini sudah mulai menerima pendaftar. Selain itu, kampus juga mengikuti skema seleksi nasional berbasis prestasi (SNBP), seleksi nasional berbasis tes (SNBT) melalui UTBK, serta jalur mandiri. Khusus jalur mandiri, UB tetap menggunakan nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA).
“Namun TKA tidak menjadi komponen utama,” ujar Arif saat ditemui wartawan, Kamis (27/11/2025).
Arif memastikan batas maksimal kuota jalur mandiri tidak akan mendekati batas 50 persen sebagaimana aturan Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH). Menurutnya, UB ingin memastikan mahasiswa yang diterima adalah mereka yang benar-benar memiliki rekam prestasi yang kuat.
“Kami tidak akan mengambil secara maksimal 50%. Karena kami menginginkan bahwa yang diterima di Universitas Brawijaya adalah benar-benar mahasiswa yang berprestasi,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa UB memberi porsi lebih besar untuk peserta berprestasi di jalur nasional, termasuk mereka yang memiliki prestasi non-akademik. Para penghafal Al-Quran maupun kitab suci agama lain juga mendapat ruang apresiasi serupa.
“Cukup menunjukkan sertifikat bahwa menjadi penghafal Al-Quran atau kitab suci agama lainnya, atau misalkan juara satu internasional olahraga, debat Bahasa Inggris, dan sebagainya,” tutur Arif.
Bagi calon mahasiswa penyandang disabilitas, UB tidak membatasi jumlah penerimaan melalui jalur mandiri. Arif memastikan mereka tidak masuk dalam hitungan kuota maksimum.
“Seleksi mandiri disabilitas itu tidak ada kuota khusus. Jadi tidak masuk di perhitungan 50% maksimal tadi. Jadi sebanyak mungkin kita merekrut, menjaring pendaftar-pendaftar disabilitas,” tandasnya.











