KOTA MALANG, VOICEOFJATIM.COM – Universitas Brawijaya kembali menjadi sorotan nasional. Kali ini, kampus yang terletak di pusat Kota Malang itu didapuk sebagai penyelenggara Olimpiade Vokasi Indonesia (OLIVIA) edisi ke-10. Sebanyak 400 tim mahasiswa dari berbagai daerah hadir untuk memamerkan inovasi terbaik mereka dalam kompetisi vokasi terbesar di Tanah Air.
Acara yang dimulai pada Selasa (29/7/2025) melalui jamuan gala dinner, resmi dibuka pada Rabu (30/7/2025), dan akan berlangsung hingga Kamis (31/7/2025). OLIVIA 2025 menjadi titik temu bagi mahasiswa vokasi dari seluruh Indonesia yang telah disaring dari ribuan proposal.
Dengan mengangkat tema “Unlocking the Wonders of Tomorrow: Bridging Innovation and Sustainability,” OLIVIA bukan hanya lomba biasa. Ini adalah ruang kreatif yang merangkul kolaborasi antarperguruan tinggi vokasi dengan dunia industri untuk bersama-sama mendorong transformasi yang berkelanjutan.
Kehadiran Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Ilham Akbar Habibie, semakin menguatkan keterkaitan antara institusi pendidikan dan sektor profesional. Ia menilai ajang seperti OLIVIA sangat penting dalam menumbuhkan budaya inovasi sejak bangku kuliah.
Dekan Fakultas Vokasi UB, Mukhammad Kholid Mawardi, menuturkan rasa bangganya karena UB terpilih sebagai tuan rumah setelah melalui proses seleksi yang cukup ketat.
“Ajang ini lebih dari sekadar kontestasi. Kami melihatnya sebagai langkah strategis untuk mempertemukan gagasan-gagasan brilian dari mahasiswa vokasi di seluruh Indonesia. Semoga dari sini lahir solusi nyata yang bermanfaat secara luas,” ucap Kholid.
Dari lebih dari seribu proposal yang masuk, hanya 400 tim yang terpilih untuk melaju ke tahap final. Mereka akan menyajikan ide-ide kreatif mulai dari rencana bisnis, rancangan aplikasi, hingga karya desain, yang semuanya ditujukan untuk menjawab tantangan dunia industri masa depan.
Ketua Forum Pendidikan Tinggi Vokasi Indonesia (FPTVI), Prof. Muh. Restu, menambahkan bahwa OLIVIA adalah ruang yang dirancang bukan hanya untuk kompetisi, tetapi juga untuk memperkuat sinergi antar kampus vokasi.
“Ciri khas OLIVIA terletak pada kolaborasi. Bukan hanya ajang unjuk kemampuan, tapi forum penguatan ekosistem vokasi nasional yang saling mendukung dan tumbuh bersama,” tegas Prof. Restu.
Sementara itu, Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, menegaskan bahwa pendidikan vokasi memegang peranan penting di tengah disrupsi digital. Ia menyoroti potensi vokasi sebagai pilar utama dalam mencetak tenaga kerja yang adaptif dan siap pakai.
“Kita sering salah kaprah menganggap vokasi sebagai jalur alternatif. Padahal, mahasiswa vokasi justru punya keterampilan yang lebih selaras dengan kebutuhan industri saat ini,” ujarnya.
Prof. Widodo juga menyampaikan kritik terhadap arah kebijakan pendidikan tinggi nasional yang menurutnya belum sepenuhnya berpihak pada penguatan industri.
“Dana pendidikan yang besar seharusnya digunakan untuk memperkuat rantai industri nasional — dari kebijakan, bahan baku, hingga pengembangan teknologi. Bukan hanya fokus pada pembangunan institusi baru,” tandasnya.
Melalui OLIVIA 2025, pendidikan vokasi sekali lagi menunjukkan taringnya sebagai solusi nyata untuk masa depan Indonesia. Tak hanya soal lomba, ini adalah momen strategis untuk mengubah cara pandang terhadap pendidikan vokasi yang selama ini terpinggirkan.
















Leave feedback about this