Menu

Dark Mode
Bank Saqu Catat 3,2 Juta Lebih Nasabah di Tahun Kedua AFTECH dan PERBANAS Tegaskan Pentingnya Sinergi Bank-Fintech untuk Perluas Akses Kredit Nasional Pevita Pearce Ungkap Rahasia Mengelola Finansial Bareng Sahabat Ajaib Luncurkan Investasi Saham AS, Ajak Investor Manfaatkan Momentum dengan Promo Biaya Transaksi 0% Ajaib Kripto Hadirkan Trading Futures Kripto dengan Leverage 25x, Kini Jadi Ajaib Alpha Apa Untungnya Indonesia Masuk ke BRICS? Begini Kata Dosen HI UMM

Headline

MSG vs Garam: Siapa yang Lebih Berbahaya Bagi Kesehatan?

badge-check


					MSG vs Garam: Siapa yang Lebih Berbahaya Bagi Kesehatan? Perbesar

MALANG, VOICEOFJATIM – MSG atau monosodium glutamat selama ini dicap buruk karena dianggap berbahaya bagi kesehatan. Namun, jika ditilik lebih dalam, garam dapur justru memiliki potensi risiko yang lebih tinggi terhadap tubuh bila dikonsumsi berlebihan.

MSG kerap jadi kambing hitam dalam perdebatan soal kesehatan makanan. Mulai dari dugaan penurunan fungsi otak hingga sindrom “Chinese Restaurant Syndrome” sering dilekatkan pada bahan penyedap satu ini. Sementara itu, garam dapur atau natrium klorida (NaCl) yang digunakan hampir di setiap masakan jarang sekali mendapat stigma serupa. Tapi, benarkah micin seburuk itu? Atau justru garam yang lebih layak diwaspadai?

Micin Mengandung Sodium Lebih Sedikit

Hal penting yang perlu dicermati dari dua bahan ini adalah kandungan sodium atau natriumnya. Sodium berlebihan dalam tubuh berkaitan erat dengan tekanan darah tinggi, gangguan jantung, hingga risiko stroke.

Secara komposisi, MSG hanya mengandung sekitar 12,3 gram sodium per 100 gram. Angka ini jauh lebih rendah dibanding garam dapur yang mengandung hingga 39,3 gram sodium di jumlah yang sama. Artinya, kandungan natrium di dalam MSG hanya sepertiga dari yang ada pada garam.

Tak Hanya Lebih Rendah Sodium, Rasa Pun Tetap Terjaga

Sebuah penelitian yang dirilis dalam Journal of Food Science mengungkapkan bahwa masakan dengan kadar garam yang dikurangi hingga 60 persen tetap terasa lezat jika diberikan tambahan MSG. Bahkan, beberapa jenis makanan seperti quinoa bowl dan savory yogurt dip lebih disukai saat menggunakan MSG dibanding versi aslinya yang menggunakan garam penuh.

MSG bekerja dengan memperkuat rasa umami, menciptakan cita rasa gurih yang alami tanpa harus menambahkan banyak garam. Ini memberi solusi baru bagi para koki dan industri makanan dalam menjaga rasa sekaligus mengurangi dampak kesehatan dari konsumsi sodium yang berlebihan.

MSG Tidak Terbukti Berbahaya

Selama bertahun-tahun, banyak informasi simpang siur mengenai dampak negatif MSG. Namun, berbagai badan kesehatan dunia seperti Food and Drug Administration (FDA) di Amerika Serikat dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyatakan MSG aman dikonsumsi dalam batas wajar.

Gejala seperti pusing atau rasa lelah usai mengonsumsi makanan ber-MSG yang dulu disebut sebagai “Chinese Restaurant Syndrome”, hingga kini belum pernah terbukti secara ilmiah sebagai efek konsisten dari MSG. Sementara itu, konsumsi garam berlebihan terbukti secara medis sebagai pemicu utama tekanan darah tinggi dan penyakit kardiovaskular.

Micin Jadi Primadona Baru Industri Makanan

Industri makanan juga mulai beralih menggunakan MSG dalam kombinasi dengan senyawa lain seperti inosinat (IMP) dan guanilat (GMP). Kombinasi ini membantu menciptakan rasa yang lebih kaya dan kompleks, bahkan dapat memangkas kebutuhan akan bahan mahal seperti daging atau kaldu tanpa mengurangi kelezatan.

“Dengan pendekatan ini, produsen bisa menjaga biaya tetap efisien dan tetap menghadirkan rasa yang memuaskan,” tambah Diah Ayu.

Dalam jumlah konsumsi yang wajar, MSG terbukti memiliki kadar sodium lebih rendah, efektif dalam memperkuat rasa, dan tidak terbukti berbahaya. Sementara itu, garam dapur yang sering dianggap ‘aman’ justru memiliki risiko kesehatan yang jauh lebih besar jika dikonsumsi berlebihan.

Melihat tren global yang kini semakin sadar terhadap pentingnya pembatasan sodium, sudah saatnya MSG dipahami secara lebih objektif. Menyalahkan micin sebagai biang kerok masalah kesehatan jelas tidak adil, karena faktanya, garam bisa menjadi musuh yang lebih senyap dalam dunia kuliner jika tidak digunakan secara bijak.

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Pendanaan Riset Fundamental Kemdiktisaintek 2026 Diraih STIE Malangkucecwara, Tim Peneliti Kembangkan Model Kepemimpinan SCAL

17 July 2026 - 11:50 WIB

Pendanaan Riset Fundamental Kemdiktisaintek 2026 Diraih STIE Malangkucecwara, Tim Peneliti Kembangkan Model Kepemimpinan SCAL

Kombes Pol. R. Bagoes Wibisono Resmi Jabat Dirressiber Polda Metro Jaya, Jejaknya dari Madiun, Malang hingga Siber Jatim

6 April 2026 - 22:49 WIB

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol. Asep Edi Suheri memimpin sertijab tiga pejabat utama, yakni Karorena, Dirreskrimsus, dan Dirressiber, di Lobby Gedung Promoter Polda Metro Jaya, Senin (6/4/2026).

Sopir Xenia Positif Sabu Tabrak 2 Pedagang Sayur hingga Tewas di Sidoarjo, Kronologi Kecelakaan Terungkap

28 March 2026 - 15:01 WIB

Detik-detik mobil Xenia menabrak dua perempuan di Jalan Raya Candi, Sidoarjo, hingga meninggal dunia terekam dalam video yang beredar di media sosial. (Foto: tangkapan layar video viral)

Konten Promosi Pakai Video Almarhum Vidi Aldiano, Emy Aghnia Tuai Kecaman dan Sampaikan Permintaan Maaf

26 March 2026 - 15:06 WIB

Selebgram Emy Aghnia menjadi sorotan usai unggahan konten promosi yang menampilkan almarhum Vidi Aldiano memicu kecaman luas dari warganet. (Sumber Foto: Instagram/@emyaghnia)

Friderica Widyasari Resmi Nahkodai OJK 2026-2031, Susunan Baru Dewan Komisioner Jadi Sorotan

26 March 2026 - 14:58 WIB

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi bersama enam Anggota Dewan Komisioner menjalani pengucapan sumpah jabatan di Mahkamah Agung, Jakarta, Rabu (25/3/2026). ( SUMBER FOTO : HUMAS DOK OJK )
Trending on Headline