Menu

Dark Mode
Bank Saqu Catat 3,2 Juta Lebih Nasabah di Tahun Kedua AFTECH dan PERBANAS Tegaskan Pentingnya Sinergi Bank-Fintech untuk Perluas Akses Kredit Nasional Pevita Pearce Ungkap Rahasia Mengelola Finansial Bareng Sahabat Ajaib Luncurkan Investasi Saham AS, Ajak Investor Manfaatkan Momentum dengan Promo Biaya Transaksi 0% Ajaib Kripto Hadirkan Trading Futures Kripto dengan Leverage 25x, Kini Jadi Ajaib Alpha Apa Untungnya Indonesia Masuk ke BRICS? Begini Kata Dosen HI UMM

Berita

Danyang Wingit Jumat Kliwon : Horor Okultisme di Balik Panggung Wayang: Ambisi, Tumbal Terakhir, dan Perlawanan Pada Kuasa Gelap

badge-check


					Poster film Danyang Wingit Jumat Kliwon Perbesar

Poster film Danyang Wingit Jumat Kliwon

VOICEOFJATIM – Jagat pedalangan Jawa, dengan segala ritus tua yang biasanya bersemayam di balik kelir, kembali diseret ke terang layar bioskop. Melalui Danyang Wingit Jumat Kliwon, Khanza Film Entertainment mengirimkan horor yang tak cuma bermain pada teriakan, tapi mengekstrak kengerian dari mitologi, benda pusaka, dan hasrat manusia yang nekat menembus batas hidup dan mati.

Agus Riyanto, yang mengambil peran rangkap sebagai sutradara sekaligus produser, menyorot sisi paling gelap dari seni wayang. Naskah Dirmawan Hatta menjahit legenda lokal menjadi potret urban yang gelap, kokoh, dan mengusik batin.

Di poros kisahnya berdiri Ki Mangun Suroto (Whani Darmawan), dalang karismatik yang terobsesi dengan kemasyhuran, lalu tergelincir pada ambisi menjinakkan ajal. Padepokannya menjadi laboratorium ilmu kuno, tempat satu ritual terlarang menunggu tumbal terakhir.

Citra (Celine Evangelista) masuk ke lingkaran itu pada 2021. Keponakan Mbok Ning (Djenar Maesa Ayu) ini datang sebagai sinden baru, di permukaan hanya bagian estetika pertunjukan. Namun gema gamelan menyimpan kebenaran lain: dirinya telah “disiapkan” untuk persembahan menuju ritual keabadian.

Motivasi Citra sederhana namun menghantam: ia butuh uang untuk pengobatan adiknya, Dewi (Aisyah Kanza). Tekanan ekonomi dan rasa takut pada hal tak kasat mata beradu seperti dua ombak yang tak pernah mereda.

Pada titik tertentu, Bara (Fajar Nugra), penjaga padepokan, mulai menangkap kejanggalan yang tak bisa ia diamkan. Pemberontakannya menyalakan bara konflik, menyeret mereka ke satu malam puncak: Gerhana Bulan Merah yang jatuh tepat pada Jumat Kliwon, malam yang dalam kepercayaan Jawa dianggap paling keramat.

Celine Evangelista mengaku proyek ini jadi lintasan paling berat dalam kariernya. Bukan hanya karena ia harus menghidupkan karakter sinden Jawa, tapi karena tembang yang ia bawakan memuat mantra buatan khusus untuk film. “Nada sinden itu ada mantranya, jadi harus ekstra hati-hati,” ungkapnya saat ditemui usai promo di Bioskop Plaza Araya, Sabtu (22/11/2025).

Ia menambahkan bahwa tiap proses rekaman maupun syuting selalu didampingi orang yang paham dan dipercaya menjaga jalannya ritual vokal tersebut. Menurut tim, mantra itu bisa memicu energi tertentu jika diucapkan dalam kondisi yang pas, dan Celine mengaku merasakannya sendiri.

Begitu baitnya mulai mengalir, suasana set berubah: percakapan padam, udara mengeras, dan seluruh kru seolah menahan napas. Sensasi ganjil itu membuat film ini, baginya, bukan sekadar horor yang mengandalkan efek, melainkan pengalaman yang menguji mental para pemainnya.

Celine menekankan bahwa film ini merupakan interpretasi modern dari cerita yang sudah lama hidup di masyarakat Jawa: legenda wayang kulit, kepercayaan tentang pembuatan wayang dari kulit musti, dan keyakinan mengenai sinden yang diyakini memiliki kekuatan tertentu. “Kita bikin versi yang lebih modern supaya anak muda bisa nyambung. Tapi garis ceritanya tetap sama, berangkat dari kepercayaan setempat yang udah hidup turun-temurun,” tambahnya.

Arah film ini tidak hanya menyorot dunia pedalangan, tetapi juga pergulatan batin mengenai kekuasaan, takdir, dan martabat manusia. Penonton diajak masuk ke ruang sunyi seorang dalang yang dikuasai ambisi abadi, sembari mengikuti perjalanan seorang perempuan yang harus memilih antara hidup, keluarga, dan ritual kuno yang menjeratnya.

Film ini juga didukung jajaran pemain lain: Nathalie Holscher sebagai Putri Kusuma Ratih, disusul Norma Cinta, Dimas Tedjo, Putri Maya Rumanti, Angga Wijaya, Keona Cinta, dan Bilqis Hafsa.

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

HIPMI Kota Malang Perkuat Peran Cetak Founder Muda Lewat Kolaborasi dengan Institut Asia

19 July 2026 - 18:32 WIB

HIPMI Kota Malang Perkuat Peran Cetak Founder Muda Lewat Kolaborasi dengan Institut Asia

Enam Dekade Bertahan, Warung Soto H. Fauzi Buktikan UMKM Lokal Bisa Naik Kelas Bersama Dukungan BRI

19 July 2026 - 15:21 WIB

Enam Dekade Bertahan, Warung Soto H. Fauzi Buktikan UMKM Lokal Bisa Naik Kelas Bersama Dukungan BRI

Kupedes BRI Perkuat Ekspansi Bebek Bang Alex, Kini Hadir di Besuki dan Siapkan Coffee Space

18 July 2026 - 21:11 WIB

Kupedes BRI Perkuat Ekspansi Bebek Bang Alex, Kini Hadir di Besuki dan Siapkan Coffee Space

Pembekalan Wisudawan STIE Malangkucecwara: Lulusan Harus Kuasai Kompetensi, Bukan Sekadar Mengantongi Ijazah

18 July 2026 - 19:49 WIB

Pembekalan Wisudawan STIE Malangkucecwara: Lulusan Harus Kuasai Kompetensi, Bukan Sekadar Mengantongi Ijazah

Pendanaan Riset Fundamental Kemdiktisaintek 2026 Diraih STIE Malangkucecwara, Tim Peneliti Kembangkan Model Kepemimpinan SCAL

17 July 2026 - 11:50 WIB

Pendanaan Riset Fundamental Kemdiktisaintek 2026 Diraih STIE Malangkucecwara, Tim Peneliti Kembangkan Model Kepemimpinan SCAL
Trending on Berita