Menu

Dark Mode
Bank Saqu Catat 3,2 Juta Lebih Nasabah di Tahun Kedua AFTECH dan PERBANAS Tegaskan Pentingnya Sinergi Bank-Fintech untuk Perluas Akses Kredit Nasional Pevita Pearce Ungkap Rahasia Mengelola Finansial Bareng Sahabat Ajaib Luncurkan Investasi Saham AS, Ajak Investor Manfaatkan Momentum dengan Promo Biaya Transaksi 0% Ajaib Kripto Hadirkan Trading Futures Kripto dengan Leverage 25x, Kini Jadi Ajaib Alpha Apa Untungnya Indonesia Masuk ke BRICS? Begini Kata Dosen HI UMM

Berita

Ketika Topi Jerami Turun ke Jalan: Cerita di Balik Bendera One Piece yang Jadi Nafas Baru Aksi Gen Z

badge-check


					One Piece, jadi simbol aktivisme Gen Z Perbesar

One Piece, jadi simbol aktivisme Gen Z

 

VOICEOFJATIM.COM – Angin sore menyapu jalanan yang mulai padat. Di antara poster yang terangkat dan wajah-wajah muda yang merapat, satu benda langsung merebut perhatian: bendera hitam bertengkorak dengan topi jerami. Ia berkibar seolah memimpin gelombang langkah yang makin membesar.

Bukan simbol partai. Bukan lambang organisasi. Melainkan ikon dari dunia fiksi, One Piece, yang tiba-tiba menjelma jadi identitas sebuah gerakan sosial.

Di bawah bendera itu, ratusan anak muda bergerak seperti satu tubuh. Mereka tidak meledak-ledak, tetapi juga tidak tunduk. Begitulah wajah Gen Z: dibesarkan internet, dipertajam krisis, dan terus mengupayakan cara bicara baru di tengah zaman yang berubah terlalu cepat.

Pertemuan antara dunia nyata dan dunia impian

Bagi sebagian orang tua, bendera bajak laut cuma hiburan. Namun bagi mereka yang tumbuh bersama Luffy, si kapten yang selalu menantang ketidakadilan, simbol itu terasa lebih jujur daripada banyak pidato politik.

Fikri (22), seorang mahasiswa yang ikut turun ke aksi, tersenyum saat ditanya alasan membawa bendera itu.

“Luffy itu nggak sempurna,” katanya. “Tapi dia nggak diem kalau lihat yang nggak bener. Kayak kami sekarang.”

Saat realitas makin sulit dipercaya, justru tokoh fiksi memberi ruang kejujuran baru. Karena itu, mereka membawa simbol yang dulu hanya hidup di layar.

Dari meme, tumbuh menjadi solidaritas

Semua ini tidak lahir dari ruang rapat. Tidak ada manifesto tebal. Justru, gerakannya tumbuh dari timeline, dari meme, video 15 detik, hingga humor gelap yang sering kali lebih jujur daripada konferensi pers pejabat.

Awalnya cuma unggahan kocak: Luffy dengan caption “Kami tidak akan diam!”. Namun perlahan, meme itu berubah jadi simbol nyata. Ada yang nge-print, ada yang gambar ulang, ada yang tempel di kain bekas. Tanpa komando resmi, bendera itu muncul di banyak aksi lintas kota.

Estetiknya ringan. Maknanya berat. Dan hanya Gen Z yang bisa mencampurkan keduanya lalu membuatnya viral dalam semalam.

Bahasa baru generasi yang lelah tapi tetap jalan terus

Di pinggir trotoar, seorang perempuan muda mengangkat plakat karton bertuliskan:

“Kalau dunia ini arc yang busuk, mari tulis ulang ceritanya.”

Kalimat itu terdengar seperti candaan, tetapi sebenarnya tidak. Gen Z hidup di tengah krisis iklim, harga yang naik terus, demokrasi yang rapuh, dan lembaga yang sulit dipercaya. Meskipun begitu, mereka tetap bergerak. Karena itu, simbol fiksi menjadi bahasa perlawanan yang terasa lebih dekat dan lebih jujur.

Bahasa yang tidak kaku seperti jargon politik. Tidak jauh seperti pidato pejabat. Dan tidak sunyi seperti ruang formal yang jarang mendengar.

Ketika simbol berubah menjadi suara

Begitu bendera itu terangkat, suara massa ikut meninggi. Ada yang bersorak, ada yang tertawa, dan ada yang tampak berkaca-kaca. Simbol itu membawa ruang aman yang tidak terduga, ruang tempat anak muda merasa terlihat walau hanya oleh tokoh fiksi.

Ironisnya, justru itu yang membuatnya kuat. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, mereka merasa punya sesuatu yang mewakili harapan mereka. Bukan lembaga, bukan elite, tetapi sebuah simbol yang selama ini hanya menemani malam-malam sepi di depan layar.

Apa yang sebenarnya sedang terjadi?

Ada pesan yang seharusnya tidak diabaikan oleh para pemegang kuasa. Ketika simbol fiksi lebih dipercaya publik dibanding institusi nyata, itu bukan tren budaya pop belaka. Itu peringatan.

Karena di balik arak-arakan itu, tersimpan tanda bahwa: kepercayaan publik sedang retak, anak muda sedang mencari cara agar didengar, dan protes mereka lahir dari keresahan yang nyata.

Gerakan ini mungkin berubah bentuk. Bendera ini mungkin tidak selalu hadir di setiap aksi. Namun ia sudah menandai satu hal penting: Gen Z telah menemukan cara bicara yang tidak bisa dipadamkan oleh ketakutan atau formalitas.

Selama ketidakadilan masih tumbuh, selama dialog tetap tertutup, simbol seperti bendera Topi Jerami akan terus berkibar, memanggil siapa pun yang masih percaya bahwa masa depan bisa diperbaiki.

Di tengah riuh itu, seorang pemuda berteriak:

“Kalau bukan kami, siapa lagi?”

Mungkin itu bukan sekadar teriakan. Mungkin itu adalah undangan, untuk ikut berlayar menuju masa depan yang mereka impikan.

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Animo Melonjak, FABI XV Jadi Cermin Meningkatnya Semangat Berprestasi Anak Indonesia

25 July 2026 - 21:38 WIB

Animo Melonjak, FABI XV Jadi Cermin Meningkatnya Semangat Berprestasi Anak Indonesia

Arief Rosyid Dorong Kader HMI Perkuat Kontribusi untuk Bangsa di Training Raya HMI Malang

23 July 2026 - 20:50 WIB

Arief Rosyid Dorong Kader HMI Perkuat Kontribusi untuk Bangsa di Training Raya HMI Malang

Mahasiswa Malang Makin Selektif Pilih Tempat Tinggal, Bisnis Rumah Kos Premium Ikut Melejit

23 July 2026 - 20:40 WIB

Mahasiswa Malang Makin Selektif Pilih Tempat Tinggal, Bisnis Rumah Kos Premium Ikut Melejit

YPIK Malang Butuh Perhatian, Golkar Dorong Dukungan Pusat untuk Pembenahan Fasilitas

23 July 2026 - 18:26 WIB

YPIK Malang Butuh Perhatian, Golkar Dorong Dukungan Pusat untuk Pembenahan Fasilitas

BRI Situbondo Percepat Digitalisasi UMKM, 183 Merchant EDC Layani Transaksi Non-Tunai

22 July 2026 - 20:22 WIB

BRI Situbondo Percepat Digitalisasi UMKM, 183 Merchant EDC Layani Transaksi Non-Tunai
Trending on Berita