Menu

Dark Mode
Bank Saqu Catat 3,2 Juta Lebih Nasabah di Tahun Kedua AFTECH dan PERBANAS Tegaskan Pentingnya Sinergi Bank-Fintech untuk Perluas Akses Kredit Nasional Pevita Pearce Ungkap Rahasia Mengelola Finansial Bareng Sahabat Ajaib Luncurkan Investasi Saham AS, Ajak Investor Manfaatkan Momentum dengan Promo Biaya Transaksi 0% Ajaib Kripto Hadirkan Trading Futures Kripto dengan Leverage 25x, Kini Jadi Ajaib Alpha Apa Untungnya Indonesia Masuk ke BRICS? Begini Kata Dosen HI UMM

Berita

Dosen STIE Malangkucecwara Dorong Penguatan Mental dan Spiritual Keluarga Binaan LAZIS Sabilillah

badge-check


					Dosen STIE Malangkucecwara Dorong Penguatan Mental dan Spiritual Keluarga Binaan LAZIS Sabilillah Perbesar

VOICEOFJATIM – STIE Malangkucecwara melalui tim pengabdian kepada masyarakat yang dipimpin Drs. Zainul Arifin, MM bersama anggota tim Dra. Sherly Hesti Erawati, MM, Dr. Siti Munfaqiroh, M.Si, dan Sugeng Hariadi, SE., CA., MM, menggelar kegiatan penguatan keluarga bersama keluarga binaan LAZIS Sabilillah Malang. Kegiatan ini difokuskan pada penguatan mental, spiritual, serta pola pengasuhan anak berbasis nilai-nilai Al-Qur’an dan keteladanan dalam keluarga.

Dalam kegiatan tersebut, Drs. Zainul Arifin, MM menyampaikan materi mengenai manajemen keluarga sebagai kelanjutan dari materi sebelumnya tentang Manajemen Shalat. Menurutnya, pembenahan keluarga harus dimulai dari pembenahan diri orang tua sebelum diarahkan kepada anak-anak.

“Materi yang dulu adalah Manajemen Shalat, bagaimana kita tidak sekadar shalat, tetapi mendirikan shalat dengan perencanaan, pelaksanaan, pengorganisasian, dan pengendalian. Sekarang kami melanjutkan bagaimana menyambut tahun baru dengan memperbarui sikap dan mental diri sendiri. Setelah membenahi diri sendiri, barulah kita membenahi anak-anak melalui manajemen keluarga,” ujar Zainul Arifin.

Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya penggunaan bahasa Qurani dalam mendidik anak. Menurutnya, Al-Qur’an mengajarkan pola komunikasi yang mendahulukan pesan positif sebelum menyampaikan larangan atau pesan negatif.

“Kalau kita mengatakan jangan bohong, yang terdengar justru kata bohongnya. Kalau mengatakan jangan malas, yang tertangkap justru malasnya. Bahasa Al-Qur’an mengajarkan positif dulu baru negatif, sebagaimana doa Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina adzabannar. Positif dulu, baru kemudian peringatan agar terhindar dari keburukan,” jelasnya.

Selain bahasa Qurani, Zainul juga memperkenalkan konsep bahasa cinta sebagai fondasi hubungan antara orang tua dan anak. Ia menggambarkan hubungan batin seorang ibu dengan anaknya sebagai ikatan yang melampaui batas ruang dan waktu.

“Anak dan ibu pernah menjadi satu tubuh. Karena itu ada ikatan yang luar biasa. Ketika anak sakit, ibu sering merasakannya. Ketika anak bahagia, orang tua pun ikut merasakan kebahagiaan. Inilah yang saya sebut bahasa cinta yang harus menjadi dasar dalam mendidik anak,” katanya.

Menurut Zainul, tantangan terbesar pendidikan keluarga saat ini bukan terletak pada keterbatasan akses informasi, melainkan pada kurangnya keteladanan. Ia menilai anak-anak saat ini dapat dengan mudah memperoleh teori melalui telepon genggam, tetapi tetap membutuhkan contoh nyata dari orang tua.

Ia juga memberikan berbagai contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari untuk menanamkan nilai kejujuran kepada anak. Salah satunya melalui pengamatan terhadap buah manggis yang jumlah kelopaknya mencerminkan jumlah isi buah di dalamnya.

“Anak-anak perlu diajak memahami bahwa apa yang tampak dari luar mencerminkan apa yang ada di dalam. Dengan cara-cara praktis seperti itu, mereka belajar tanpa merasa sedang diajari. Keteladanan dan pendekatan yang dekat dengan kehidupan mereka jauh lebih efektif,” ungkapnya.

Pada kesempatan tersebut, Zainul juga mengajak para orang tua membiasakan anak-anak membaca basmalah sebelum mengakses telepon genggam. Menurutnya, kebiasaan sederhana tersebut dapat menjadi benteng moral di tengah derasnya arus informasi digital.

“Kalau sebelum makan kita diajarkan membaca bismillah, maka sebelum membuka HP yang berisi berbagai informasi juga seharusnya diawali dengan bismillah. Dengan begitu kita berharap hati dan pikiran dituntun untuk menemukan hal-hal yang baik,” tuturnya.

Sementara itu, Manajer Operasional LAZIS Sabilillah, Ust. Sulaiman, menyampaikan apresiasinya atas keterlibatan dosen STIE Malangkucecwara dalam mendampingi keluarga binaan lembaganya. Menurutnya, sinergi berbagai pihak sangat diperlukan untuk memperkuat kondisi mental dan spiritual para mustahik.

“Kita berterima kasih karena bisa ditemani. Keluarga binaan kami adalah keluarga yang perlu dikuatkan mentalnya. Dalam pendampingan, yang utama adalah penguatan mental, kemudian spiritual, baru setelah itu penguatan keterampilan. Karena keterbatasan SDM yang kami miliki, dukungan dari berbagai pihak sangat kami butuhkan,” kata Sulaiman.

Ia menjelaskan bahwa keluarga kurang mampu sering kali menghadapi tantangan bukan hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga dari sisi mental dan wawasan hidup. Karena itu, pendampingan tidak cukup hanya dalam bentuk bantuan materi.

“Kami khawatir jika hanya diberi bantuan terus-menerus, mereka menjadi bergantung. Namun jika tidak dibantu, mereka juga kesulitan. Karena itu mereka perlu motivasi, penguatan mental, wawasan, dan pemahaman tentang tujuan hidup. Hal-hal seperti ini masih sangat minim mereka dapatkan,” ujarnya.

Menurut Sulaiman, lemahnya mental dapat berdampak luas terhadap perilaku sehari-hari, mulai dari kesehatan, pendidikan anak, hingga pergaulan sosial. Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut bukan semata-mata kesalahan keluarga binaan, melainkan karena keterbatasan pengetahuan dan pendidikan yang mereka miliki.

“Karena mental yang lemah, dampaknya bisa ke mana-mana, termasuk perilaku kesehatan, pendidikan anak, gaya hidup, dan lingkungan pergaulan. Bukan karena mereka sengaja, tetapi karena mereka belum tahu. Itulah sebabnya pendampingan seperti ini sangat penting dan perlu terus berlanjut,” jelasnya.

Saat ini LAZIS Sabilillah secara rutin menggelar pembinaan bagi berbagai kelompok binaan, mulai dari keluarga penerima manfaat, anak asuh, guru TPQ, hingga imam musala. Dalam kegiatan kali ini, jumlah keluarga binaan yang terlibat mencapai sekitar 140 keluarga, sementara anak-anak mengikuti pembinaan secara terpisah.

Menutup kegiatan tersebut, Zainul Arifin berharap kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga sosial dapat terus berlanjut sehingga manfaatnya semakin luas dirasakan masyarakat.

“Kami berterima kasih kepada LAZIS Sabilillah yang telah memberikan wadah. Harapannya kegiatan seperti ini tidak berhenti di sini karena kebaikan harus terus berlanjut. Ketika kita mendoakan anak agar sukses, maka suksesnya harus bersifat universal, tidak hanya hari ini atau di dunia saja, tetapi sampai akhir hayat dan kehidupan akhirat,” pungkasnya.

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Terkait Perizinan, Disnaker-PMPTSP Kota Malang Turun Langsung Cek Metropoint

11 June 2026 - 16:02 WIB

Terkait Perizinan, Disnaker-PMPTSP Kota Malang Turun Langsung Cek Metropoint

Metropoint Buka Suara Soal Tudingan Pelanggaran Izin, Manager : Tim Legal Bakal Menjelaskan Detail

11 June 2026 - 15:50 WIB

Metropoint Buka Suara Soal Tudingan Pelanggaran Izin, Manager : Tim Legal Bakal Menjelaskan Detail

Soroti Dugaan Persoalan Izin Metropoint, AMPH Ancam Gelar Aksi Lanjutan di Balai Kota Malang

11 June 2026 - 15:43 WIB

Soroti Dugaan Persoalan Izin Metropoint, AMPH Ancam Gelar Aksi Lanjutan di Balai Kota Malang

AMPH Gelar Aksi di Metropoint Merjosari, Desak Pemkot Malang Periksa Dugaan Pelanggaran Perizinan

11 June 2026 - 15:38 WIB

AMPH Gelar Aksi di Metropoint Merjosari, Desak Pemkot Malang Periksa Dugaan Pelanggaran Perizinan

Mahasiswa Desak Pemeriksaan Metropoint, Pengawasan Perizinan Properti di Kota Malang Jadi Sorotan

8 June 2026 - 11:32 WIB

Mahasiswa Desak Pemeriksaan Metropoint, Pengawasan Perizinan Properti di Kota Malang Jadi Sorotan
Trending on Berita