Menu

Dark Mode
Bank Saqu Catat 3,2 Juta Lebih Nasabah di Tahun Kedua AFTECH dan PERBANAS Tegaskan Pentingnya Sinergi Bank-Fintech untuk Perluas Akses Kredit Nasional Pevita Pearce Ungkap Rahasia Mengelola Finansial Bareng Sahabat Ajaib Luncurkan Investasi Saham AS, Ajak Investor Manfaatkan Momentum dengan Promo Biaya Transaksi 0% Ajaib Kripto Hadirkan Trading Futures Kripto dengan Leverage 25x, Kini Jadi Ajaib Alpha Apa Untungnya Indonesia Masuk ke BRICS? Begini Kata Dosen HI UMM

Berita

Dari Dapur Rumah ke Pasar Lokal: Ajay Bakery Bertahan dengan Kesederhanaan Rasa

badge-check


					Dari Dapur Rumah ke Pasar Lokal: Ajay Bakery Bertahan dengan Kesederhanaan Rasa Perbesar

VOICEOFJATIM – Ketika industri kue rumahan dipenuhi inovasi visual dan rasa yang terus berubah, Ajay Bakery justru mengambil arah berbeda. Usaha yang dirintis Abadi Wijaya di Desa Tegalweru, Dau, Kabupaten Malang ini memilih bertahan dengan satu produk utama: bolu pisang tanpa pengawet.

Pilihan tersebut bukan sekadar strategi, melainkan respons atas kecenderungan pasar yang mulai mencari produk lebih alami. Di tengah maraknya penggunaan bahan tambahan, Ajay Bakery menempatkan keaslian bahan sebagai nilai utama.

“Semua berbahan dasar pisang asli, tanpa pengawet. Kami ingin produk ini aman dan bisa dinikmati siapa saja,” kata Abadi, Senin (6/4/2026).

Perjalanan usaha ini tidak dimulai dari dapur profesional atau resep turun-temurun. Justru sebaliknya, Ajay Bakery lahir dari eksperimen sederhana. Berangkat dari kegemaran sang istri terhadap bolu pisang, Abadi mulai mencoba membuat sendiri dengan belajar secara otodidak dari berbagai sumber daring.

Proses itu tidak berhenti pada meniru resep. Ia terus melakukan penyesuaian hingga menemukan cita rasa yang dianggap paling pas. Dari situlah kemudian terbentuk karakter produk yang kini dipertahankan.

“Awalnya hanya coba-coba, lalu kami kembangkan sendiri sampai punya rasa khas,” ujarnya.

Dalam praktiknya, menjaga konsistensi menjadi tantangan tersendiri. Pemilihan bahan baku dilakukan dengan ketat, terutama pada pisang yang digunakan. Tingkat kematangan hingga jenis pisang menjadi faktor penting untuk menghasilkan rasa dan tekstur yang stabil.

Di sisi lain, proses produksi yang masih dilakukan secara manual menjadi bagian dari identitas usaha. Cara ini memang membatasi kapasitas produksi, tetapi dinilai lebih mampu menjaga kualitas sekaligus menekan biaya agar harga tetap terjangkau.

Namun, keterbatasan tersebut berdampak pada sistem penjualan. Ajay Bakery hingga kini masih mengandalkan pola pre-order. Keputusan ini diambil untuk menghindari risiko produk tidak terjual, sekaligus menjaga kesegaran karena tidak menggunakan bahan pengawet.

“Kalau harus selalu ready stock, risikonya besar. Apalagi produk kami tidak tahan lama,” jelasnya.

Kondisi ini juga memengaruhi jangkauan pasar. Pengiriman ke luar kota belum menjadi prioritas setelah pengalaman distribusi yang memakan waktu lama dan berpotensi menurunkan kualitas produk. Untuk sementara, pemasaran difokuskan di wilayah Malang Raya melalui pemesanan langsung.

Di balik berbagai keterbatasan tersebut, ada momentum penting yang mendorong usaha ini berkembang. Pesanan dalam jumlah besar dari salah satu pelanggan awal menjadi titik awal kepercayaan diri untuk membuka penjualan secara lebih luas.

Sejak saat itu, produksi mulai berjalan lebih rutin. Ajay Bakery bahkan menjalin kerja sama dengan koperasi mahasiswa di lingkungan kampus untuk memperluas akses pasar, meski masih dalam skala terbatas.

Upaya diversifikasi produk sempat dilakukan dengan mencoba varian lain seperti brownies. Namun keterbatasan tenaga membuat Abadi memilih fokus pada satu produk utama. Saat ini, bolu pisang Ajay Bakery hadir dalam beberapa varian, seperti original, almond, kismis, keju, dan campuran.

Ke depan, pengembangan usaha masih akan dilakukan secara bertahap. Bagi Abadi, yang terpenting bukan sekadar memperluas pasar, tetapi menjaga kepercayaan konsumen terhadap kualitas produk.

Ia berharap, dengan konsistensi tersebut, bolu pisang Ajay Bakery bisa menemukan tempatnya sendiri di tengah persaingan, bahkan berpeluang menjadi salah satu pilihan oleh-oleh khas Malang.

“Yang penting kualitas tetap terjaga. Harapannya, orang akan ingat produk ini karena rasanya,” tutupnya.

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

APBKM Gelar Workshop Batik di Blimbing, Cetak Perajin Baru

12 July 2026 - 20:13 WIB

APBKM Gelar Workshop Batik di Blimbing, Cetak Perajin Baru

Animo Olimpiade Pelajar Terus Meningkat, Grand Final Smart Student Competition 2026 Diikuti 2.400 Finalis se-Pulau Jawa

12 July 2026 - 15:05 WIB

Animo Olimpiade Pelajar Terus Meningkat, Grand Final Smart Student Competition 2026 Diikuti 2.400 Finalis se-Pulau Jawa

Reses Wakil Ketua Komisi A DPRD Kota Malang: Fasilitasi Dialog Warga dengan DPUPRPKP, Banjir dan PSU Jadi Sorotan

8 July 2026 - 12:08 WIB

Reses Wakil Ketua Komisi A DPRD Kota Malang: Fasilitasi Dialog Warga dengan DPUPRPKP, Banjir dan PSU Jadi Sorotan

Pakar UB: Polemik LGBTQ dalam Perpres 111/2025 Perlu Dibaca dari Perspektif Komunikasi Politik

6 July 2026 - 20:00 WIB

Pakar UB: Polemik LGBTQ dalam Perpres 111/2025 Perlu Dibaca dari Perspektif Komunikasi Politik

STIE Malangkucecwara Dampingi UMKM Balearjosari, Perkuat Literasi Keuangan dan Pemasaran Digital

4 July 2026 - 10:11 WIB

STIE Malangkucecwara Dampingi UMKM Balearjosari, Perkuat Literasi Keuangan dan Pemasaran Digital
Trending on Berita