VOICEOFJATIM – Kemampuan menguasai teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) semakin menjadi nilai tambah yang diperhitungkan di dunia pendidikan maupun industri. Di tengah meningkatnya kebutuhan talenta digital tersebut, dua mahasiswa STIE Malangkucecwara (ABM Malang) berhasil mencatatkan prestasi dengan lolos sebagai Google Student Ambassador (GSA) 2026, sebuah program pengembangan mahasiswa yang berfokus pada penguasaan teknologi dan kepemimpinan digital.
Mereka adalah Serlina, mahasiswi Program Studi Akuntansi semester enam, serta Zilfi Alvin Mubarok dari Program Studi Manajemen semester empat. Keduanya berhasil melewati proses seleksi nasional yang diikuti lebih dari 81 ribu mahasiswa dari sekitar 1.900 perguruan tinggi di Indonesia.

Serlina mengaku pencapaian tersebut merupakan impian yang telah dipersiapkan sejak tahun sebelumnya. Namun, kesempatan untuk mengikuti seleksi baru dapat diwujudkan pada tahun ini.
“Ada tiga tahap yang kami ikuti, mulai seleksi administrasi hingga wawancara yang seluruhnya dilakukan secara daring. Setelah itu kami dinyatakan lolos menjadi Google Student Ambassador dan berhak mengikuti camp sebagai tahap pembelajaran berikutnya,” ujarnya.
Menurut Serlina, aktivitas di luar ruang kuliah menjadi salah satu faktor yang memperkuat portofolionya selama proses seleksi. Selain aktif di organisasi mahasiswa, ia juga menjalankan usaha kecil serta mengembangkan konten digital melalui media sosial.
“Selain kuliah dan berorganisasi di dalam maupun luar kampus, saya juga memiliki pengalaman menjalankan bisnis kecil-kecilan dan menjadi konten kreator di akun TikTok,” katanya.
Baginya, kesempatan bergabung dalam Google Student Ambassador bukan sekadar pencapaian akademik, melainkan ruang untuk memperdalam pemanfaatan teknologi AI yang kini berkembang sangat cepat. Selama program berlangsung, peserta memperoleh berbagai materi mengenai penggunaan kecerdasan buatan dalam pengembangan karier hingga penerapan teknologi tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Pengalaman serupa juga disampaikan Zilfi Alvin Mubarok. Ia mengatakan teknologi AI telah menjadi bagian dari aktivitas belajarnya bahkan sebelum mengikuti program Google Student Ambassador.
“Saya hampir setiap hari menggunakan berbagai tools AI, mulai dari Anti-Gravity untuk membantu kebutuhan coding hingga NotebookLM yang sangat membantu proses belajar maupun mengembangkan proyek-proyek lainnya,” jelasnya.
Setelah dinyatakan lolos, para peserta diwajibkan mengikuti program camp secara daring selama empat bulan. Selama periode tersebut mereka mendapatkan pembelajaran intensif mengenai berbagai ekosistem AI milik Google, termasuk teknik menyusun prompt secara efektif agar teknologi tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal.
“Selama camp kami belajar bagaimana AI bisa digunakan untuk akselerasi karier, mulai dari teknik membuat prompt hingga memanfaatkan berbagai fitur yang tersedia. Hampir seluruh materinya memang berfokus pada AI,” tutur Zilfi.
Peran sebagai Google Student Ambassador juga membawa tanggung jawab untuk memperluas literasi digital di lingkungan kampus. Karena itu, Serlina dan Zilfi telah menyiapkan sejumlah program edukasi yang akan menyasar mahasiswa STIE Malangkucecwara melalui kegiatan workshop dan pelatihan.
“Saat ini kami sedang menyiapkan proposal. Saya akan mengangkat pemanfaatan Google NotebookLM, sedangkan Serlina akan membahas penggunaan Google Gemini agar teman-teman mahasiswa bisa memanfaatkannya secara maksimal,” ujar Zilfi.
Keberhasilan dua mahasiswa tersebut mendapat apresiasi dari pihak kampus. Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni STIE Malangkucecwara, Dr. Drs. Kadarusman, Ak., M.M., CA., mengatakan kampus selama ini mendorong mahasiswa untuk aktif mencari pengalaman di luar perkuliahan sebagai bekal menghadapi kebutuhan dunia kerja.
“Pengalaman menjadi Google Student Ambassador merupakan portofolio yang sangat berharga karena program ini berada pada level internasional,” katanya.
Menurut Kadarusman, kesempatan tersebut juga sejalan dengan filosofi ATTITUDE yang diterapkan di STIE Malangkucecwara, terutama nilai endless learning yang mendorong mahasiswa terus belajar, baik di dalam maupun di luar lingkungan kampus.
Ia berharap pengalaman yang diperoleh selama mengikuti Google Student Ambassador akan meningkatkan kompetensi kedua mahasiswa tersebut sekaligus memperkuat daya saing mereka ketika memasuki dunia usaha dan industri, bahkan sebelum menyelesaikan pendidikan tinggi.













