Menu

Dark Mode
Bank Saqu Catat 3,2 Juta Lebih Nasabah di Tahun Kedua AFTECH dan PERBANAS Tegaskan Pentingnya Sinergi Bank-Fintech untuk Perluas Akses Kredit Nasional Pevita Pearce Ungkap Rahasia Mengelola Finansial Bareng Sahabat Ajaib Luncurkan Investasi Saham AS, Ajak Investor Manfaatkan Momentum dengan Promo Biaya Transaksi 0% Ajaib Kripto Hadirkan Trading Futures Kripto dengan Leverage 25x, Kini Jadi Ajaib Alpha Apa Untungnya Indonesia Masuk ke BRICS? Begini Kata Dosen HI UMM

Berita

Temuan MBG Tak Layak di Lowokwaru, Djoko Prihatin Minta Evaluasi Menyeluruh Program MBG di Kota Malang

badge-check


					Temuan MBG Tak Layak di Lowokwaru, Djoko Prihatin Minta Evaluasi Menyeluruh Program MBG di Kota Malang Perbesar

VOICEOFJATIM – Keresahan orangtua siswa di Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, menyusul temuan puding stroberi yang tidak layak konsumsi dalam program Makan Bergizi Gratis, mendapat perhatian dari Ketua Umum DPD Partai Golkar Kota Malang, Djoko Prihatin. Ia mendorong agar pengelolaan program tersebut segera dievaluasi secara menyeluruh demi menjaga kualitas dan kepercayaan publik.

Insiden itu terjadi pada Selasa, 3 Maret 2026. Sejumlah wali murid melaporkan adanya belatung di dalam menu puding stroberi yang dibagikan kepada siswa di salah satu SD wilayah Lowokwaru. Informasi awal beredar melalui pesan pribadi antarorangtua, lalu menyebar ke grup WhatsApp.

Seorang wali murid yang meminta identitasnya disamarkan mengaku menerima laporan dari orangtua lain sebelum akhirnya melakukan pengecekan langsung. Temuan tersebut bukan hanya terjadi di satu kelas, melainkan dikeluhkan oleh siswa dari kelas 3 hingga kelas 6. Hal ini memunculkan dugaan bahwa persoalan terjadi pada proses produksi, bukan sekadar kasus tunggal.

Video yang beredar di kalangan wali murid memperlihatkan kondisi puding yang tampak keruh dan terdapat belatung di dalamnya. Dugaan sementara mengarah pada kurang optimalnya pengawasan bahan baku, khususnya buah stroberi yang digunakan.

Pihak sekolah kemudian mengeluarkan imbauan resmi agar puding tersebut tidak dikonsumsi dan diminta untuk dibuang. Langkah cepat itu diambil sebagai bentuk antisipasi agar tidak menimbulkan dampak kesehatan pada siswa.

Sorotan publik pun mengarah pada dapur penyedia MBG, yakni SPPG Tulusrejo 2 yang menjadi mitra sejumlah sekolah di kawasan tersebut. Sejumlah orangtua berharap ada evaluasi menyeluruh terhadap standar kebersihan dan pengawasan distribusi makanan.

Menanggapi situasi tersebut, Djoko Prihatin menilai insiden ini harus dijadikan momentum perbaikan sistem. Ia menekankan pentingnya pengawasan yang detail, mulai dari rantai pasok bahan baku, proses pengolahan, hingga distribusi makanan ke sekolah.

“Harus ada pembenahan serius. Pengawasan tidak boleh setengah setengah. Semua tahapan, dari bahan baku sampai makanan diterima siswa, wajib dipastikan dalam kondisi baik,” ujarnya.

Menurutnya, pemeriksaan tidak cukup hanya berdasarkan sampel terbatas. Sistem kontrol harus berjalan menyeluruh agar tidak ada celah kelalaian.

Djoko juga menyoroti pentingnya kualitas sumber daya manusia dalam pengelolaan program tersebut. Ia meminta agar proses penjaringan pegawai dilakukan secara profesional dan berbasis kompetensi.

“Penempatan pegawai harus benar benar mempertimbangkan kemampuan dan komitmen. Ini menyangkut kesehatan anak anak, jadi tidak bisa dianggap sepele,” tegasnya.

Di sisi lain, ia mengingatkan agar polemik ini tidak mengaburkan tujuan utama program Makan Bergizi Gratis. Program tersebut dinilai memiliki manfaat strategis, tidak hanya dalam mendukung pemenuhan gizi siswa, tetapi juga membuka lapangan kerja dan mendorong pergerakan ekonomi pelaku UMKM lokal.

Karena itu, ia mengajak semua pihak untuk tetap mendukung program pemerintah tersebut, dengan catatan pengelolaannya harus semakin profesional dan akuntabel. Pengawasan, menurutnya, perlu diperkuat, termasuk memastikan margin keuntungan tidak mengorbankan kualitas bahan baku.

“Program ini baik dan perlu kita dukung. Namun pengelolaannya tidak boleh asal asalan. Standar mutu harus dijaga, pengawasan diperketat, dan kualitas bahan baku tidak boleh dikompromikan,” tandasnya.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa program berbasis pelayanan publik membutuhkan sistem yang kuat dan pengawasan berkelanjutan. Bagi para orangtua, yang utama adalah kepastian bahwa makanan yang diterima anak anak benar benar aman, sehat, dan layak konsumsi.

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Dari Ruang Kantor ke Ruang Hijau, BRI Malang Soekarno Hatta Tanam Investasi Lingkungan untuk Masa Depa

6 June 2026 - 08:10 WIB

Dari Ruang Kantor ke Ruang Hijau, BRI Malang Soekarno Hatta Tanam Investasi Lingkungan untuk Masa Depa

Dari Konten Misteri hingga Sejarah Malang, Misteri Malang Bangun Komunitas Penonton Lewat Gaya Khas “Ojok Kemendel Timbang Di Buntel”

3 June 2026 - 20:29 WIB

Dari Konten Misteri hingga Sejarah Malang, Misteri Malang Bangun Komunitas Penonton Lewat Gaya Khas “Ojok Kemendel Timbang Di Buntel”

Indonesia Jadi Sorotan dalam Diskusi Reformasi Hukum Pidana Asia, PERSADA UB Luncurkan Jurnal Internasional

3 June 2026 - 16:53 WIB

Indonesia Jadi Sorotan dalam Diskusi Reformasi Hukum Pidana Asia, PERSADA UB Luncurkan Jurnal Internasional

Rupiah Melemah, Investasi Emas Digital di BRImo Semakin Dilirik Masyarakat

1 June 2026 - 20:03 WIB

Rupiah Melemah, Investasi Emas Digital di BRImo Semakin Dilirik Masyarakat

Fatayat NU Kota Malang Tetapkan Lima Agenda Prioritas, Fokus pada Perlindungan Perempuan hingga Penguatan Ekonomi Kader

1 June 2026 - 17:45 WIB

Fatayat NU Kota Malang Tetapkan Lima Agenda Prioritas, Fokus pada Perlindungan Perempuan hingga Penguatan Ekonomi Kader
Trending on Berita