VOICEOFJATIM – Persoalan makanan terbuang tak hanya menyangkut lingkungan. Bagi mahasiswa yang harus mengatur uang bulanan secara ketat, salah menghitung kebutuhan bahan masakan juga berarti membuang anggaran.
Persoalan itu coba dijawab lima mahasiswa STIE Malangkuçeçwara (ABM) Malang melalui CookPlan, sebuah platform digital yang dirancang untuk membantu pengguna menentukan menu, menghitung kebutuhan bahan, sekaligus menyesuaikannya dengan anggaran yang tersedia.

Tim tersebut terdiri dari Zilfi Alvin Mubarok sebagai ketua, bersama Nanda Maharani, Irma Ramadia Hakim, Tri Khusnul Hidayati, dan Tiara Eka Wahyuningayu Vasha.
Gagasan tersebut muncul dari kegelisahan tim melihat persoalan food waste di Indonesia yang masih besar. Zilfi mengatakan, berdasarkan data lembaga nasional yang mereka gunakan pada 2024, produksi sampah makanan di Indonesia mencapai sekitar 14,7 juta ton setiap tahun.
Besarnya makanan yang terbuang juga memiliki konsekuensi ekonomi. Pemerintah, menurut Zilfi, mengonfirmasi nilai kerugian akibat sampah makanan mencapai sekitar Rp500 triliun per tahun.
“Jadi inovasi website CookPlan ini berawal dari keprihatinan kami terhadap banyaknya jumlah sampah makanan yang dihasilkan Indonesia yang sudah memprihatinkan,” kata Zilfi.
Dari persoalan tersebut, tim kemudian mengembangkan gagasan CookPlan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K). Proposal mereka diajukan kepada Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Ditjen Dikti pada 7 April 2026.
Usulan itu kemudian dinyatakan lolos dan memperoleh pendanaan pada 23 Mei 2026. Setelah pendanaan diterima, pengembangan hingga operasional platform dilakukan secara bertahap.
Nanda Maharani mengatakan CookPlan mulai diluncurkan pada 27 Juni 2026. Sementara operasional platform dimulai pada 4 Juli 2026.
“Dikerjakan setelah mendapat pendanaan, akhirnya website CookPlan ini kami launching mulai 27 Juni 2026 dan untuk kegiatan operasional mulai tanggal 4 Juli 2026,” ujar Nanda.
Konsep CookPlan tidak berhenti pada rekomendasi resep. Platform tersebut dirancang agar pengguna dapat menentukan kebutuhan bahan berdasarkan porsi makanan yang hendak dibuat. Dengan perhitungan itu, pengguna diharapkan tidak membeli bahan secara berlebihan.
Irma Ramadia Hakim menjelaskan, kebiasaan membeli bahan masakan melebihi kebutuhan menjadi salah satu celah munculnya makanan terbuang.
“Biasanya kita belanja bahan masakan itu melebihi kebutuhan memasak dalam satu porsi, sementara dengan mengikuti saran dari website CookPlan maka makanan yang terbuang akan sangat sedikit,” jelas Irma.
CookPlan juga dikembangkan dengan layanan pembelian bahan masakan secara daring. Untuk mendukung layanan tersebut, tim menggandeng sejumlah pedagang di Pasar Blimbing, Kota Malang.
Tri Khusnul Hidayati mengatakan, bahan yang dipesan pengguna dapat dipenuhi melalui kerja sama dengan pedagang lokal. Tim juga telah menggandeng pihak yang membantu proses pengiriman bahan masakan kepada pemesan.
“Kami juga telah bekerjasama dengan beberapa pedagang di pasar Blimbing kota Malang untuk memenuhi kebutuhan bahan masakan yang telah dipesan pengguna website CookPlan,” kata Tri.
Yang menarik, platform ini juga menyasar persoalan yang dekat dengan kehidupan mahasiswa, yakni keterbatasan anggaran makan.
Melalui fitur perencanaan anggaran, pengguna dapat mencari pilihan menu berdasarkan nominal uang yang dimiliki. Misalnya, mahasiswa dengan dana Rp30 ribu dapat memperoleh rekomendasi menu sekaligus daftar bahan yang perlu dibeli dengan menyesuaikan anggaran tersebut.
“Jadi misalkan ada mahasiswa yang hanya memiliki uang Rp30 ribu maka dapat mendapatkan saran dengan membuka website CookPlan mulai dari menu masakan dengan anggaran Rp30 ribu, termasuk bahan masakan apa saja yang harus dibeli untuk memasaknya,” terang Tiara Eka Wahyuningayu Vasha.
Dengan pola tersebut, CookPlan mencoba mempertemukan dua kebutuhan sekaligus: mengendalikan pengeluaran untuk makanan dan mengurangi bahan pangan yang berakhir menjadi sampah.
Di bawah pendampingan dosen Dr. Uke Prajogo, S.TP., M.M., CMA., perkembangan CookPlan mulai terlihat sejak diluncurkan. Platform tersebut kini telah memiliki lebih dari 60 anggota terdaftar dengan jumlah kunjungan sekitar 300 kali setiap bulan.
Tim PKM-K STIE Malangkuçeçwara masih membuka ruang pengembangan agar CookPlan tidak hanya menjadi alat bantu perencanaan menu, tetapi juga dapat digunakan lebih luas untuk mendorong kebiasaan mengelola makanan secara lebih terukur di tingkat rumah tangga.














