VOICEOFJATIM – Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, kebutuhan akan lahirnya pemimpin muda yang berintegritas dinilai semakin mendesak. Kepemimpinan tidak lagi sekadar soal kemampuan memimpin orang lain, tetapi juga keberanian mengambil keputusan, kejujuran, serta kemampuan mengendalikan diri sejak usia muda.
Isu tersebut menjadi fokus Tim Pengabdian kepada Masyarakat Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Malangkuçeçwara saat memberikan pembekalan kepada siswa dan santri di Yayasan El Jasmeen, Singosari, Kabupaten Malang.

Tim pengabdian dipimpin Dr. Siwi Dyah Ratnasari, SE., MM dengan anggota Dra. Tutik Arniati, Ak., MM., CPA, Dra. Istutik, Ak., MM., CPA, dan Hardiana Fernanda, SE., MM. Seluruh kegiatan didanai oleh STIE Malangkuçeçwara sebagai bagian dari komitmen perguruan tinggi dalam menjalankan tridarma melalui pengabdian kepada masyarakat.
Ketua Tim Pengabdian, Dr. Siwi Dyah Ratnasari, SE., MM, menjelaskan bahwa materi kepemimpinan dipilih karena mayoritas peserta merupakan pelajar SMA dan santri yang sedang berada pada fase pembentukan karakter.
Menurutnya, persoalan terbesar yang ditemui bukan minimnya potensi, melainkan rendahnya keberanian untuk menunjukkan kemampuan yang dimiliki.
“Anak-anak pondok sebenarnya memiliki potensi yang sangat baik. Tetapi banyak yang masih kurang berani menampilkan kemampuan mereka. Padahal mereka mampu. Karena itu keberanian menjadi bekal pertama yang harus dibangun,” ujarnya.
Selain keberanian, Siwi menekankan bahwa pemimpin yang baik harus dibangun di atas nilai kejujuran dan amanah. Ia menilai banyak persoalan kepemimpinan yang muncul saat ini berawal dari hilangnya integritas setelah seseorang memperoleh jabatan.
“Jangan sampai ketika menjadi pemimpin justru lupa amanah. Seorang pemimpin pertama-tama bertanggung jawab kepada Allah, kemudian bertanggung jawab kepada sesama manusia. Nilai itu harus ditanamkan sejak dini,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa konsep kepemimpinan tidak selalu dimaknai sebagai memimpin organisasi besar. Menurutnya, setiap orang sejatinya adalah pemimpin, dimulai dari kemampuan memimpin dirinya sendiri.
“Kalau seseorang sudah mampu disiplin terhadap dirinya, mampu mengendalikan dirinya, berani mengambil tanggung jawab, insyaAllah nanti dia juga siap memimpin orang lain. Jadi kepemimpinan itu dimulai dari diri sendiri,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) STIE Malangkuçeçwara, Dra. Lailatus Saadah, M.Si, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya kampus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui pendidikan karakter.
Menurutnya, pengabdian kali ini dilaksanakan oleh dua kelompok dosen dengan fokus berbeda namun saling melengkapi. Kelompok pertama memberikan edukasi mengenai pencegahan berbagai bentuk kekerasan, sedangkan kelompok kedua membekali peserta dengan materi kepemimpinan.
“Harapan kami mereka adalah calon-calon pemimpin masa depan. Karena itu melalui pembekalan ini kami ingin menanamkan nilai kepemimpinan yang baik, memiliki akhlak yang baik, dan mampu menjadi teladan di lingkungannya,” ujar Lailatus.
Ia menambahkan, kedua materi tersebut dipilih karena saling berkaitan dalam membentuk karakter generasi muda. Pemahaman mengenai pencegahan kekerasan diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman, sedangkan penguatan kepemimpinan menjadi bekal agar peserta mampu tumbuh sebagai pribadi yang bertanggung jawab.
Melalui pengabdian masyarakat tersebut, STIE Malangkuçeçwara berharap kontribusi perguruan tinggi tidak hanya berhenti pada pengembangan ilmu pengetahuan di ruang akademik, tetapi juga mampu memperkuat karakter generasi muda melalui pendidikan nilai, integritas, dan kepemimpinan yang relevan dengan tantangan kehidupan saat ini.













