VOICEOFJATIM – Kemampuan mengelola keuangan dan memanfaatkan teknologi digital menjadi tantangan utama yang masih dihadapi banyak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Padahal, dua aspek tersebut menjadi fondasi penting agar usaha mampu berkembang, menentukan harga secara tepat, serta memperluas jangkauan pasar.
Menjawab tantangan tersebut, Tim Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) STIE Malangkucecwara Malang memberikan pendampingan kepada 16 pelaku UMKM yang tergabung dalam kelompok usaha produktif Kelurahan Balearjosari, Kota Malang. Program pengabdian masyarakat ini difokuskan pada peningkatan kapasitas pengelolaan keuangan dan pemasaran digital sebagai upaya meningkatkan daya saing pelaku usaha.


Anggota Tim LPPM STIE Malangkucecwara, Dr. Hanif Mauludin, M.Si., mengatakan peserta pelatihan berasal dari berbagai sektor usaha kreatif, mulai dari kerajinan tangan, makanan, minuman, hingga pengolahan limbah kain menjadi produk bernilai ekonomi.
“Pelatihan ini diikuti 16 pelaku UMKM yang bergerak di berbagai bidang, seperti kerajinan, makanan, minuman, serta pemanfaatan kain bekas menjadi produk kain perca,” ujarnya.
Sebelum menyusun materi pelatihan, tim LPPM terlebih dahulu melakukan identifikasi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi para pelaku usaha. Hasil pemetaan menunjukkan bahwa tantangan terbesar masih berada pada aspek pengelolaan keuangan, pemasaran, dan proses produksi.
Berdasarkan hasil tersebut, tahap awal pendampingan difokuskan pada peningkatan literasi keuangan. Menurut Hanif, masih banyak pelaku UMKM yang belum mampu menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP) secara tepat sehingga berdampak pada penentuan harga jual dan keuntungan usaha.
Melalui pelatihan tersebut, peserta dibimbing menyusun laporan keuangan sederhana, menghitung biaya produksi, hingga memisahkan keuangan usaha dengan keuangan pribadi agar pengelolaan bisnis menjadi lebih sehat.
“Dari pelatihan ini mereka mulai memahami cara menyusun laporan keuangan, menghitung HPP, hingga memisahkan pembukuan usaha dengan keuangan keluarga,” katanya.
Setelah memperkuat aspek keuangan, pendampingan dilanjutkan dengan pelatihan pemasaran digital. Perubahan perilaku konsumen yang semakin mengandalkan media sosial dan platform digital dinilai menuntut pelaku UMKM untuk mampu beradaptasi dengan strategi pemasaran yang lebih modern.

Salah satu materi yang diberikan adalah teknik melakukan siaran langsung atau live streaming melalui platform TikTok sebagai sarana promosi sekaligus penjualan produk.
Menurut Hanif, pelatihan tersebut tidak hanya membahas penggunaan aplikasi, tetapi juga mencakup berbagai aspek pendukung seperti pemilihan perangkat, penataan latar siaran, pencahayaan, hingga teknik berkomunikasi di depan kamera.
“Pelaku UMKM ingin memahami bagaimana melakukan live di TikTok secara efektif. Karena itu kami memberikan materi mulai dari penggunaan perangkat, teknologi pendukung, hingga teknik tampil saat siaran langsung,” jelasnya.
Hanif menegaskan program pendampingan yang dipimpin Ketua Tim LPPM Enggar Nursasi, S.E., Ak., CA., M.M., bersama anggota tim Dr. Wiyarni, Ak., CA., MSPA., CSRA., Dr. Hanif Mauludin, M.Si., dan Benita Rachmania, S.E., M.M., tidak berhenti pada penyampaian materi pelatihan.
Tim akan melanjutkan program melalui evaluasi, pendampingan, serta praktik secara langsung agar peserta mampu menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh dalam kegiatan usahanya.
“Tahap pertama kami memberikan pemahaman, kemudian dilanjutkan dengan pelatihan keterampilan dan praktik. Target akhirnya pelaku UMKM mampu memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan penjualan sekaligus menjangkau pasar yang lebih luas,” ujarnya.
Hanif menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada bidang pengabdian kepada masyarakat. Namun, menurutnya, perguruan tinggi juga memiliki tanggung jawab menghadirkan solusi nyata terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Sebagai kampus bisnis, kami ingin memberikan kontribusi langsung kepada pelaku UMKM. Selain membantu masyarakat, kegiatan ini juga menjadi pembelajaran bagi dosen untuk memahami persoalan nyata di lapangan sehingga solusi yang diberikan semakin relevan,” katanya.
Ke depan, pendampingan tidak hanya difokuskan pada peningkatan kompetensi pelaku usaha. STIE Malangkucecwara juga akan mengupayakan dukungan terhadap kebutuhan sarana produksi melalui berbagai program hibah pengabdian masyarakat, termasuk hibah dari Kementerian Pendidikan.
Melalui pendampingan yang berkelanjutan, STIE Malangkucecwara berharap pelaku UMKM di Balearjosari mampu meningkatkan kualitas pengelolaan usaha, memanfaatkan teknologi digital secara optimal, serta memperkuat daya saing produknya di tengah perkembangan ekonomi digital yang semakin pesat.













