VOICEOFJATIM – Universitas Brawijaya terus memperkuat sistem tata kelola melalui penguatan manajemen risiko. Salah satu langkah yang ditempuh ialah membekali auditor internal dengan kompetensi berbasis standar ISO 31000:2018 agar proses identifikasi, verifikasi, hingga evaluasi risiko di seluruh unit kerja berjalan lebih terukur.
Upaya tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Internal Audit ISO 31000:2018 Sistem Manajemen Risiko yang diselenggarakan Satuan Reformasi Birokrasi (SRB) UB di Hotel Swiss Belinn Malang, Senin (30/6/2026). Kegiatan ini mempertemukan unsur SRB, Satuan Pengawas Internal (SPI), dan Lembaga Penjamin Mutu (LPM) dalam satu forum untuk menyelaraskan mekanisme pengawasan.

Kepala Satuan Reformasi Birokrasi UB, Dr. Ngesti Dwi Prasetyo, S.H., M.Hum., mengatakan penguatan kapasitas auditor menjadi bagian penting dalam membangun sistem akuntabilitas kampus. Menurutnya, pengelolaan risiko yang dilakukan secara sistematis akan membantu setiap unit mengantisipasi potensi persoalan sebelum memengaruhi pencapaian target institusi.
“Capaian-capaian kinerja di UB nantinya dapat dimitigasi lebih dini sampai akhir tahun yang akan datang,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Satuan Reformasi Birokrasi UB, Dr. Mohammad Nuh, S.IP., M.Si., menjelaskan bahwa lini kedua pengawasan memiliki tanggung jawab melakukan verifikasi terhadap dokumen manajemen risiko yang tersusun dalam risk register. Seluruh proses tersebut dilakukan melalui aplikasi SEMAR UB, mulai dari identifikasi risiko, penyusunan langkah mitigasi, hingga validasi.
“Fungsi verifikator di lini dua meliputi memverifikasi data-data manajemen risiko, mulai identifikasi hingga validasi risiko,” jelasnya.
Hasil verifikasi kemudian menjadi bahan pengawasan lanjutan oleh lini ketiga, yakni SPI maupun LPM. Melalui mekanisme berlapis tersebut, setiap risiko diharapkan memperoleh penanganan yang tepat sebelum berdampak terhadap kinerja organisasi.
Berdasarkan hasil identifikasi selama triwulan pertama dan kedua, tercatat sekitar 1.500 perencanaan atau program masuk kategori berisiko tinggi dan telah terekam dalam aplikasi SEMAR UB. Seluruh data tersebut kini memasuki tahap analisis mitigasi oleh tim auditor.
“Terdapat 1.500 perencanaan berisiko tinggi yang telah masuk dalam aplikasi SEMAR UB, dan saat ini sudah mulai analisis mitigasi oleh tim auditor,” kata Nuh.
Ia menambahkan, tahapan berikutnya ditargetkan memasuki fase evaluasi pada triwulan ketiga. Langkah tersebut menjadi bagian dari persiapan Universitas Brawijaya untuk meraih sertifikasi ISO 31000:2018 pada penghujung 2026.
“Prediksi tingginya risiko bukan berarti jelek, dan rendahnya risiko bukan berarti bagus,” pungkasnya.













