Menu

Dark Mode
Bank Saqu Catat 3,2 Juta Lebih Nasabah di Tahun Kedua AFTECH dan PERBANAS Tegaskan Pentingnya Sinergi Bank-Fintech untuk Perluas Akses Kredit Nasional Pevita Pearce Ungkap Rahasia Mengelola Finansial Bareng Sahabat Ajaib Luncurkan Investasi Saham AS, Ajak Investor Manfaatkan Momentum dengan Promo Biaya Transaksi 0% Ajaib Kripto Hadirkan Trading Futures Kripto dengan Leverage 25x, Kini Jadi Ajaib Alpha Apa Untungnya Indonesia Masuk ke BRICS? Begini Kata Dosen HI UMM

Headline

Konten Seksual Menyimpang Viral di Facebook, Psikolog UMM Soroti Dampak dan Bahaya Psikologisnya

badge-check


					Ilustrasi. (AI) Perbesar

Ilustrasi. (AI)

KOTA MALANG, VOICEOFJATIM.COM – Sebuah akun komunitas di Facebook memicu kehebohan usai membagikan konten yang dinilai menyimpang secara seksual. Di balik ramainya respons publik, Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Psikolog Udi Rosida Hijrianti, menegaskan pentingnya memahami fenomena ini dari sisi kesehatan mental dan psikologi pelaku maupun korban.

Menurut Udi, dua bentuk penyimpangan seksual muncul dalam kasus ini adalah inses dan pedofilia. Keduanya termasuk ke dalam gangguan parafilia berdasarkan klasifikasi Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima (DSM-5-TR). Inses mengacu pada ketertarikan seksual terhadap anggota keluarga atau kerabat sendiri, sedangkan pedofilia adalah ketertarikan seksual pada anak-anak.

“Secara naluriah, manusia memang memiliki dorongan seksual, tapi inses dan pedofilia itu tidak dapat diterima secara moral, sosial, dan agama,” ujar Udi saat diwawancarai.

Ia menambahkan bahwa kedua perilaku tersebut bisa meninggalkan luka psikologis mendalam bagi korban. Mulai dari trauma berat, depresi, kecemasan, hingga kesulitan dalam berinteraksi secara sosial dan emosional.

“Dalam situasi seperti ini, korban justru menjadi pihak yang paling dirugikan. Mereka bisa merasa sangat bersalah, tidak berharga, dan akhirnya menarik diri dari lingkungan sosial, apalagi kalau belum bisa menerima kejadian itu sepenuhnya,” jelasnya.

Udi juga memaparkan bahwa penyimpangan semacam ini biasanya bukan muncul secara tiba-tiba. Banyak pelaku justru pernah mengalami kejadian serupa di masa lalu. Lingkaran kekerasan seksual ini kemudian berisiko menular secara lintas generasi, terutama jika tumbuh di lingkungan keluarga yang penuh kekerasan atau menerapkan budaya patriarki yang ekstrem.

Faktor lain yang memperkuat munculnya perilaku menyimpang ini antara lain adalah paparan terhadap konten pornografi, rendahnya pendidikan, kemiskinan, serta adanya gangguan kepribadian. Namun, Udi menekankan bahwa akar utama dari perilaku inses dan pedofilia tetap terletak pada kondisi psikologis pelaku.

Dalam hal ini, penanganan terhadap pelaku tidak cukup hanya dengan pendekatan hukum. Diperlukan terapi psikologis mendalam seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) guna mengubah pola pikir menyimpang dan keyakinan keliru yang dimiliki pelaku. Tak hanya itu, dalam kondisi tertentu, pengawasan psikiater sangat penting untuk membantu mengontrol dorongan seksual yang abnormal.

Sementara bagi korban, terutama anak-anak, Udi menyarankan penggunaan play therapy dan CBT untuk membantu mereka memproses trauma dan mengembalikan kepercayaan dirinya.

“Anak-anak biasanya tidak bisa langsung bercerita. Mereka sering menyampaikan pengalaman traumatisnya melalui kegiatan bermain,” kata Udi menambahkan.

Ia juga menekankan pentingnya peran keluarga dalam mendampingi proses pemulihan. Anak korban butuh suasana yang aman, bebas dari stigma sosial, serta perlindungan hukum yang memadai. Udi mendorong agar lembaga seperti Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Dinas Sosial, dan aparat penegak hukum lebih aktif dalam menjamin keselamatan dan keadilan bagi korban.

Di sisi lain, edukasi seksual yang sehat juga harus digencarkan lewat seminar maupun psikoedukasi. Masyarakat, menurut Udi, wajib lebih selektif dan kritis terhadap konten digital yang dikonsumsi agar kasus serupa tidak terus berulang.

“Pendekatannya harus menyeluruh, dari sisi psikologi, hukum, hingga edukasi. Kita tidak bisa hanya menyalahkan korban atau menunggu kasus viral dulu baru bertindak,” pungkasnya.

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

STIE Malangkucecwara Libatkan Chef Internasional untuk Tingkatkan Standar Kuliner UMKM Kampoeng Heritage Kajoetanga

26 June 2026 - 16:38 WIB

STIE Malangkucecwara Libatkan Chef Internasional untuk Tingkatkan Standar Kuliner UMKM Kampoeng Heritage Kajoetanga

Strategi STIE Malangkuçeçwara Perkuat Mental Spiritual Keluarga Hadapi Tantangan Era Digital

22 June 2026 - 17:29 WIB

Strategi STIE Malangkuçeçwara Perkuat Mental Spiritual Keluarga Hadapi Tantangan Era Digital

Capstone Project FILKOM UB Hadirkan Solusi Industri Nyata, DIMS Inspect Tawarkan Inovasi Inspeksi Otomatis Berbasis Computer Vision

17 June 2026 - 23:57 WIB

Capstone Project FILKOM UB Hadirkan Solusi Industri Nyata, DIMS Inspect Tawarkan Inovasi Inspeksi Otomatis Berbasis Computer Vision

Mengejar Mimpi ke Jepang, Mahasiswa STIE Malangkuçeçwara Buktikan Persiapan dan Prestasi Jadi Kunci

11 June 2026 - 17:13 WIB

Mengejar Mimpi ke Jepang, Mahasiswa STIE Malangkuçeçwara Buktikan Persiapan dan Prestasi Jadi Kunci

Empat Mahasiswi STIE Malangkucecwara Bawa Pengalaman Kerja Jepang, Disiplin dan Adaptasi Jadi Bekal Masuki Dunia Industri

11 June 2026 - 16:56 WIB

Empat Mahasiswi STIE Malangkucecwara Bawa Pengalaman Kerja Jepang, Disiplin dan Adaptasi Jadi Bekal Masuki Dunia Industri
Trending on Berita