MALANG – Ratusan mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB) memamerkan berbagai solusi teknologi dalam ajang Pameran Capstone Project yang digelar di Auditorium Algoritma FILKOM UB. Kegiatan ini menjadi puncak dari mata kuliah wajib Capstone Project yang diikuti mahasiswa semester enam dan dirancang untuk mengasah kemampuan mereka dalam menyelesaikan persoalan nyata yang dihadapi dunia industri.
Sebanyak 13 kasus dari berbagai mitra industri nasional dan regional diselesaikan oleh sekitar 93 hingga 94 kelompok mahasiswa yang berasal dari lintas program studi, mulai dari Informatika, Sistem Informasi, Teknologi Informasi hingga Teknik Komputer. Mitra yang terlibat antara lain Epson, CIMB Niaga, Jasa Tirta, Techlab, serta sejumlah instansi lainnya, termasuk Kominfo Jawa Timur.

Ketua Pameran Capstone Project FILKOM UB, Barlian Henryranu Prasetio, menjelaskan bahwa konsep pembelajaran Capstone Project berbeda dengan perkuliahan konvensional karena seluruh proses berlangsung berbasis proyek dan berorientasi pada kebutuhan industri.

“Mahasiswa diharapkan mampu membaca masalah dan memberikan solusi pada dunia nyata, terutama persoalan yang dihadapi mitra industri. Karena itu kami menghadirkan kasus-kasus riil dari perusahaan dan instansi untuk diselesaikan oleh mahasiswa melalui pendekatan multidisiplin,” ujarnya.
Menurut Barlian, setiap kelompok diberikan tujuan utama dari permasalahan yang dihadapi industri, namun tidak diberi batasan mengenai bentuk solusi yang harus dihasilkan. Pendekatan tersebut membuka ruang bagi mahasiswa untuk berinovasi dan menghasilkan gagasan yang beragam meskipun mengerjakan kasus yang sama.
“Mahasiswa hanya diberikan goal utamanya saja, kemudian mereka dipersilakan berinovasi. Karena itu setiap kelompok bisa menghasilkan kontribusi dan inovasi yang berbeda walaupun berasal dari kasus yang sama,” katanya.
Selama satu semester, mahasiswa mendapatkan pendampingan intensif dari dosen pembimbing berdasarkan kompetensi program studi maupun dosen yang fokus pada substansi kasus. Pendekatan tersebut memungkinkan setiap tim mengombinasikan keahlian teknis dan pemahaman kebutuhan industri dalam merancang solusi.
Salah satu inovasi yang menarik perhatian pengunjung pameran adalah DIMS Inspect, sebuah alat inspeksi otomatis berbasis computer vision yang dikembangkan mahasiswa untuk menjawab tantangan yang diberikan oleh Epson.
Anggota tim pengembang, Hanif Zaid Nasrullah, menjelaskan bahwa alat tersebut dirancang untuk membantu proses pemeriksaan kualitas komponen secara otomatis sehingga perusahaan tidak perlu lagi melakukan pengecekan satu per satu secara manual.
“Alat ini merupakan alat inspeksi untuk mendeteksi barang yang bagus dan yang tidak. Dalam kasus di pabrik, komponen dari vendor datang dalam jumlah besar sehingga tidak mungkin dipilih secara manual satu per satu. DIMS Inspect dibuat untuk mempermudah proses tersebut,” jelasnya.
Saat ini, DIMS Inspect masih berupa prototipe yang mampu melakukan inspeksi objek dua dimensi melalui kamera yang ditempatkan di atas stasiun pemeriksaan. Ke depan, sistem tersebut berpotensi dikembangkan menjadi inspeksi tiga dimensi yang mampu mengukur dimensi objek secara lebih komprehensif.
Sebagai Computer Vision Engineer, Ananda Muhammad Reza menjelaskan bahwa solusi tersebut lahir dari kebutuhan Epson yang masih melakukan pengukuran komponen secara manual dengan ketelitian hingga skala milimeter.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, tim menerapkan teknologi computer vision yang dipadukan dengan ArUco Barcode sebagai sistem kalibrasi otomatis. Teknologi tersebut memungkinkan konversi ukuran dari piksel ke milimeter dilakukan secara otomatis tanpa proses pengukuran manual yang rumit.
“Permasalahan yang diberikan Epson adalah proses pengukuran yang masih dilakukan secara manual. Solusi yang kami terapkan menggunakan computer vision dengan inovasi ArUco Barcode sehingga sistem dapat mengukur objek secara otomatis dan lebih efisien,” kata Reza.
Dalam penggunaannya, operator cukup memasukkan data objek yang akan diperiksa ke dalam basis data sistem, termasuk ukuran standar dan batas toleransi yang diperbolehkan. Setelah proses kalibrasi kamera dilakukan, objek dapat langsung diperiksa bahkan saat bergerak di atas konveyor.
Reza mengungkapkan bahwa tingkat akurasi pengukuran yang dihasilkan sistem telah mencapai lebih dari 95 persen.
“Setelah dilakukan kalibrasi, barang bisa langsung diperiksa dan akurasinya berada di atas 95 persen,” ujarnya.
Dari sisi pengembangan perangkat lunak, tim memanfaatkan kombinasi sejumlah teknologi modern. Pemrosesan citra dilakukan menggunakan Python, sementara sistem backend dibangun dengan bahasa pemrograman Rust dan antarmuka berbasis web menggunakan JavaScript Svelte.
Backend Developer tim, Hasdi Bizan Azami, mengatakan bahwa platform tersebut telah tersedia secara daring dan bersifat open source sehingga dapat dipelajari maupun dikembangkan lebih lanjut oleh masyarakat.
“Untuk saat ini sistem sudah dapat diakses secara online dan source code-nya juga tersedia sehingga siapa pun dapat mencoba menjalankannya sendiri,” katanya.
Menurut Hasdi, sistem hanya membutuhkan kamera dan pencahayaan yang memadai untuk beroperasi. Namun, karena proses pengolahan data dilakukan secara daring, koneksi internet yang stabil sangat diperlukan agar hasil pengukuran tetap akurat.
Sementara itu, System Architect sekaligus Project Manager tim, Faris Mayandi Nazham Fauzi, menyebut bahwa keterbatasan anggaran menjadi tantangan utama dalam pengembangan prototipe. Meski demikian, tim berhasil membangun stasiun inspeksi dan konveyor sederhana dengan biaya yang relatif rendah.
“Untuk pembuatan stasiun dan conveyor ini biayanya sekitar seratus ribuan rupiah. Ke depan, jika ada dukungan dana yang lebih besar, kami ingin meningkatkan kualitas lighting, menambah kemampuan deteksi tiga dimensi, serta menghadirkan sistem pemisah otomatis antara barang yang lolos inspeksi dan yang tidak,” ujarnya.
Barlian menegaskan bahwa berbagai inovasi yang dipamerkan dalam Capstone Project tidak berhenti pada tahap akademik. Seluruh kasus yang diberikan mitra merupakan persoalan nyata yang berpotensi ditindaklanjuti ke tahap hilirisasi dan implementasi di industri.
“Tujuan akhirnya memang agar solusi yang dihasilkan mahasiswa dapat ditindaklanjuti oleh mitra. Harapannya ada keberlanjutan kerja sama sehingga inovasi yang lahir di kampus bisa memberikan manfaat nyata bagi dunia industri dan masyarakat,” tuturnya.
Melalui pameran tersebut, FILKOM UB menunjukkan bahwa kolaborasi antara mahasiswa, dosen, dan mitra industri mampu melahirkan inovasi yang tidak hanya relevan secara akademik, tetapi juga memiliki peluang besar untuk diterapkan dalam berbagai sektor industri di masa mendatang.













