Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Berita

Mengejar Mimpi ke Jepang, Mahasiswa STIE Malangkuçeçwara Buktikan Persiapan dan Prestasi Jadi Kunci

badge-check

Mengejar Mimpi ke Jepang, Mahasiswa STIE Malangkuçeçwara Buktikan Persiapan dan Prestasi Jadi Kunci Perbesar

VOICEOFJATIM – Program magang internasional di Jepang yang dikembangkan STIE Malangkuçeçwara (ABM) kembali menjadi magnet bagi mahasiswa yang ingin memperluas pengalaman sekaligus membuka peluang karier di tingkat global. Bagi sebagian mahasiswa, kesempatan tersebut bukan sekadar mengikuti program kampus, melainkan menjadi jalan untuk mewujudkan impian yang telah dibangun sejak lama.

Hal itu disampaikan dua mahasiswa STIE Malangkuçeçwara, Roby Purba Aditia dan M. Ismail, yang tengah mempersiapkan keberangkatan mereka ke Jepang setelah melalui proses seleksi dan pembekalan selama hampir satu tahun.

Roby mengaku keinginannya menimba pengalaman di Jepang sudah muncul sejak masih duduk di bangku SMA. Karena itu, ketika memilih perguruan tinggi, ia sengaja mencari kampus yang memiliki program internasional yang kuat.

“Sebenarnya ke Jepang itu sudah menjadi mimpi saya sejak SMA. Waktu mencari kampus, saya melihat salah satu program unggulan ABM adalah internship ke luar negeri, khususnya Jepang. Itu menjadi salah satu alasan saya memilih kuliah di sini,” ujar Roby.

Meski demikian, ia sempat mengurungkan niat karena menganggap biaya mengikuti program tersebut sangat besar. Pandangannya berubah setelah mencari informasi lebih mendalam mengenai mekanisme program yang dijalankan kampus.

“Awalnya saya ragu karena berpikir biayanya mahal. Tapi setelah mencari tahu, ternyata tidak sebesar yang saya bayangkan. Apalagi saat internship di Jepang kami juga menerima gaji, sehingga bisa membantu menutup biaya yang dikeluarkan,” katanya.

Menurut Roby, proses menuju keberangkatan tidaklah instan. Mahasiswa harus melewati seleksi akademik dari kampus, kemudian mengikuti proses wawancara dengan perusahaan di Jepang yang akan menjadi tempat magang.

Ia menilai kampus telah memberikan pendampingan secara menyeluruh agar mahasiswa memiliki kesiapan menghadapi seluruh tahapan tersebut.

“Fasilitas dari kampus sangat lengkap. Mulai kursus bahasa Jepang, latihan wawancara, sampai pendampingan melalui penyelenggara program. Jadi kami benar-benar dipersiapkan sebelum berangkat,” ungkapnya.

Persiapan yang dilakukan tidak hanya sebatas kemampuan bahasa. Roby juga berusaha membangun kesiapan mental dengan mempelajari pengalaman para senior yang lebih dulu mengikuti program serupa.

“Saya ingin mendapatkan pengalaman baru, mengenal budaya yang berbeda, dan memperluas wawasan. Karena itu saya juga mempersiapkan mental dengan banyak mendengar cerita dari kakak-kakak yang sudah berangkat lebih dulu,” tuturnya.

Sementara itu, M. Ismail mengaku awalnya tidak pernah membayangkan akan memiliki kesempatan bekerja dan belajar di luar negeri. Ketertarikannya baru muncul setelah mengikuti pengenalan program internasional yang diselenggarakan kampus pada awal masa perkuliahan.

“Awalnya saya tidak kepikiran ke luar negeri. Tapi setelah dikenalkan dengan program student exchange dan magang internasional, saya langsung tertarik karena saya melihat ini bisa membuka pintu karier saya ke depan,” kata Ismail.

Meski tertarik sejak awal, ia mengaku sempat meragukan kemampuannya sendiri. Keraguan tersebut kemudian ia jawab dengan menjaga prestasi akademik dan mempersiapkan diri menghadapi proses seleksi.

“Saya sempat berpikir, bisa enggak ya saya ke luar negeri. Akhirnya saya maksimalkan IPK karena seleksi pertama dari kampus melihat prestasi akademik. Setelah itu ada tes dasar bahasa Jepang, seperti hiragana dan katakana,” ujarnya.

Ismail bahkan mengaku belum memahami huruf Jepang tersebut sebelum mengikuti seleksi. Dalam waktu hanya sepekan, ia belajar secara intensif agar mampu mengikuti ujian.

“Waktu itu saya bahkan belum tahu hiragana dan katakana. Saya belajar maksimal sekitar satu minggu sebelum tes, lalu mengikuti seleksi. Alhamdulillah saya lolos,” ucapnya.

Dari sekitar 30 peserta yang mengikuti seleksi pada angkatan mereka, hanya 10 mahasiswa yang dinyatakan lolos untuk mengikuti tahap berikutnya. Setelah itu, mereka menjalani pendidikan bahasa Jepang secara intensif selama kurang lebih satu tahun hingga akhirnya siap diberangkatkan.

Pengalaman Roby dan Ismail menunjukkan bahwa kesempatan mengikuti program magang internasional tidak hanya ditentukan oleh kemampuan finansial, tetapi juga oleh kesiapan akademik, kemauan belajar, serta konsistensi menjalani proses pembinaan yang disiapkan kampus. Bagi keduanya, Jepang bukan sekadar tujuan magang, melainkan ruang belajar untuk memperluas wawasan, membangun karakter, dan menyiapkan langkah karier di masa depan.

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Read More

RTH Baru 3,44 Persen, DPRD Kota Malang Beri Warning, Soroti Ancaman Alih Fungsi

9 Oct 2026 - 18:44 WIB

RTH Baru 3,44 Persen, DPRD Kota Malang Beri Warning, Soroti Ancaman Alih Fungsi

Bawa Nama Malang ke Panggung Nasional, H. Surjono Dipercaya Jadi Juri Miss Tionghoa Indonesia 2026

6 Oct 2026 - 12:53 WIB

Bawa Nama Malang ke Panggung Nasional, H. Surjono Dipercaya Jadi Juri Miss Tionghoa Indonesia 2026

Cozy Republic Hidupkan Kembali “Republik Uye”, 10 Lagu Disiapkan dengan Sentuhan Baru

5 Oct 2026 - 13:24 WIB

Cozy Republic Hidupkan Kembali “Republik Uye”, 10 Lagu Disiapkan dengan Sentuhan Baru

ICMI Kabupaten Malang Dorong Riset dan Kolaborasi Jadi Penggerak Pembangunan Daerah

5 Oct 2026 - 10:38 WIB

ICMI Kabupaten Malang Dorong Riset dan Kolaborasi Jadi Penggerak Pembangunan Daerah

Kolaborasi APBKM, UB dan Dewan Kesenian, Lahirkan Batik Sekar Jagad Panca Warna

4 Oct 2026 - 06:46 WIB

Kolaborasi APBKM, UB dan Dewan Kesenian, Lahirkan Batik Sekar Jagad Panca Warna
Trending on Berita