VOICEOFJATIM – Di tengah semakin kompleksnya tantangan yang dihadapi organisasi, mulai dari dunia bisnis hingga pemerintahan, kebutuhan terhadap model kepemimpinan yang mampu beradaptasi dengan perubahan menjadi semakin mendesak. Berangkat dari realitas tersebut, tim peneliti STIE Malangkucecwara Malang berhasil mengembangkan konsep Strategic Contextual Authentic Leadership (SCAL) yang kini memperoleh pendanaan Penelitian Fundamental DPPM Kemdiktisaintek 2026.
Riset berjudul “Strategic Contextual Authentic Leadership (SCAL) serta Pengaruhnya Terhadap Perceived Organizational Performance” dipimpin oleh Dr. Hanif Mauludin, M.Si bersama Dr. Darti Djuharni, M.Si, (Cand Dr) Yuyuk Liana, S.E., M.M., dan Rina Irawati, S.E., M.M.


Keberhasilan memperoleh pendanaan nasional tersebut menjadi pengakuan bahwa gagasan yang dikembangkan memiliki kontribusi ilmiah sekaligus potensi penerapan dalam menjawab persoalan kepemimpinan modern.
Ketua tim peneliti, Dr. Hanif Mauludin, menjelaskan bahwa SCAL lahir sebagai pengembangan dari teori Authentic Leadership yang telah banyak digunakan selama dua dekade terakhir. Menurutnya, berbagai persoalan kepemimpinan yang muncul di sejumlah organisasi besar menunjukkan bahwa integritas saja tidak selalu cukup untuk menghasilkan keputusan yang efektif.
“Kami melihat banyak praktik kepemimpinan, termasuk di perusahaan-perusahaan besar, yang menghadapi persoalan meskipun para pemimpinnya dikenal memiliki integritas dan kompetensi. Artinya ada aspek lain yang perlu diperhatikan, yaitu kemampuan membaca konteks strategis organisasi,” ujarnya.

Ia mengatakan penelitian difokuskan pada BUMN karena karakter organisasinya sangat kompleks. Di satu sisi dituntut menjalankan prinsip bisnis, namun di sisi lain harus berhadapan dengan banyak kepentingan para pemangku kepentingan sehingga proses pengambilan keputusan menjadi jauh lebih rumit dibanding perusahaan swasta.
Dari hasil penelitian awal, tim kemudian mengembangkan empat dimensi baru yang melengkapi konsep Authentic Leadership, di antaranya kemampuan memahami konteks organisasi serta kematangan beradaptasi terhadap perubahan. Menurut Hanif, seorang pemimpin tidak cukup hanya jujur, berintegritas, dan berkarakter baik, tetapi juga harus mampu membaca dinamika lingkungan, memetakan kepentingan para pemangku kepentingan, serta menerjemahkannya menjadi keputusan yang cepat, tepat, dan benar.

Konsep tersebut mendapat respons positif dari berbagai kalangan yang mengikuti forum expert judgement hasil penelitian.
Anggota Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur, Puguh Wiji Pamungkas, menilai SCAL menawarkan perspektif baru yang relevan dengan tantangan kepemimpinan saat ini.
Ia mengapresiasi lahirnya teori yang menurutnya menjadi pelengkap konsep Authentic Leadership. Dalam pandangannya, kepemimpinan tetap menjadi penggerak utama pertumbuhan organisasi, baik di sektor swasta maupun pemerintahan.
“Situasi hari ini berada dalam kondisi VUCA, yaitu perubahan yang sangat cepat, penuh ketidakpastian, kompleks, dan ambigu. Pemimpin dituntut mampu mengambil keputusan secara cepat, tepat, dan akurat. Saya melihat konsepsi SCAL yang digagas Pak Hanif menjadi jawaban atas tantangan tersebut,” katanya.
Pandangan serupa disampaikan Konsultan Bisnis sekaligus Leadership Trainer, Dr. Hegi Harjoyo. Menurutnya, konsep yang ditawarkan tim peneliti menjadi cermin bagi para praktisi bisnis yang selama ini lebih banyak belajar melalui pengalaman dibanding landasan akademik.
“Begitu dipaparkan, saya merasa apa yang selama ini dilakukan ternyata memiliki dasar teori. SCAL sangat relevan bagi dunia bisnis dan pengembangan kepemimpinan perusahaan karena membantu praktisi memahami mengapa sebuah keputusan perlu diambil dengan pendekatan tertentu,” ujarnya.
Sementara itu, Anggota DPRD Kota Malang sekaligus Leadership Trainer, Dr. Indra Permana, M.M., mengaku sejumlah prinsip SCAL telah ia terapkan dalam proses penyusunan berbagai kebijakan daerah.
Menurutnya, konsep tersebut memperkuat aspek komitmen, integritas, serta kemampuan mengambil keputusan secara cepat, tepat, dan benar. Ia bahkan menilai pendekatan itu dapat menjadi salah satu solusi atas berbagai persoalan kepemimpinan yang masih dihadapi sejumlah organisasi pemerintahan.
“Kalau pemerintahan menerapkan SCAL, saya rasa ini menjadi bagian dari solusi atas kebuntuan leadership yang masih ada di beberapa daerah. Tidak hanya di pemerintahan, tetapi juga sangat relevan diterapkan di dunia bisnis maupun organisasi sosial,” ungkapnya.
Dengan diperolehnya pendanaan Penelitian Fundamental DPPM Kemdiktisaintek 2026, tim peneliti STIE Malangkucecwara berharap pengembangan SCAL tidak berhenti sebagai konsep akademik semata. Model kepemimpinan tersebut diharapkan dapat menjadi rujukan ilmiah sekaligus acuan praktis bagi organisasi yang membutuhkan pemimpin adaptif, mampu membaca perubahan, dan menghasilkan kinerja organisasi yang lebih baik di tengah dinamika lingkungan yang terus berkembang.













