Menu

Dark Mode
Bank Saqu Catat 3,2 Juta Lebih Nasabah di Tahun Kedua AFTECH dan PERBANAS Tegaskan Pentingnya Sinergi Bank-Fintech untuk Perluas Akses Kredit Nasional Pevita Pearce Ungkap Rahasia Mengelola Finansial Bareng Sahabat Ajaib Luncurkan Investasi Saham AS, Ajak Investor Manfaatkan Momentum dengan Promo Biaya Transaksi 0% Ajaib Kripto Hadirkan Trading Futures Kripto dengan Leverage 25x, Kini Jadi Ajaib Alpha Apa Untungnya Indonesia Masuk ke BRICS? Begini Kata Dosen HI UMM

Headline

Fenomena Premanisme Berkedok Ormas Jelang Lebaran, Sosiolog UGM Soroti Dampaknya

badge-check


					Ilustrasi Rupiah. (Freepik) Perbesar

Ilustrasi Rupiah. (Freepik)

SURABAYA, VOICEOFJATIM.COM – Menjelang Idul Fitri, praktik pemalakan tunjangan hari raya (THR) oleh oknum organisasi masyarakat (ormas) kembali marak meresahkan masyarakat. Dengan berbagai alasan, seperti sumbangan sukarela atau tradisi tahunan, sejumlah pihak memanfaatkan momentum hari raya untuk meminta THR secara paksa, baik kepada pelaku usaha maupun warga biasa. Fenomena ini tidak hanya ilegal, tetapi juga mencerminkan persoalan sosial yang lebih luas.

Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Widyanta, menilai praktik ini sebagai bentuk pemerasan, baik yang dilakukan secara halus dengan tekanan sosial maupun secara terang-terangan dengan ancaman langsung. “Setiap perusahaan sudah punya mekanisme sendiri dalam tanggung jawab sosialnya, sehingga tuntutan semacam ini tidak memiliki dasar hukum yang sah,” ujarnya, Kamis (27/3/2025).

Menurutnya, fenomena ini berkaitan erat dengan faktor sosial dan ekonomi. Banyak anggota ormas berasal dari kelompok masyarakat dengan pekerjaan tidak tetap. Tekanan ekonomi yang semakin berat mendorong mereka mencari cara untuk mendapatkan pemasukan, termasuk dengan cara yang tidak benar. Selain itu, kebijakan efisiensi anggaran pemerintah juga memperburuk kondisi. “Saat anggaran daerah dipotong, banyak sumber pemasukan yang hilang, dan dampaknya sangat besar bagi masyarakat kelas bawah,” jelasnya.

Ia juga menyoroti kesenjangan sosial yang semakin melebar sebagai salah satu pemicu maraknya aksi pemalakan oleh ormas. Di satu sisi, kelompok elite dengan mudahnya memamerkan gaya hidup mewah, sementara di sisi lain, banyak masyarakat masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar mereka. Ketimpangan ini menciptakan frustrasi kolektif yang bisa mendorong tindakan menyimpang.

Fenomena ini tidak bisa dibiarkan karena berpotensi mengganggu stabilitas sosial dan dunia usaha. Widyanta menegaskan bahwa penegakan hukum harus dilakukan secara tegas tanpa pandang bulu, tanpa terpengaruh kepentingan politik atau kedekatan dengan aparat. Menurutnya, ormas yang melakukan pemalakan hanyalah bagian kecil dari masalah besar yang dihadapi negara. “Yang lebih berbahaya adalah pejabat yang menciptakan kebijakan tidak adil dan membiarkan ketimpangan sosial semakin melebar,” tegasnya.

Jika praktik ini terus berlanjut tanpa tindakan tegas, dampaknya bisa meluas ke berbagai sektor. Dunia usaha akan semakin tertekan, biaya ekonomi meningkat, dan iklim investasi terganggu. Hal ini juga dapat menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah serta memperburuk stabilitas sosial. Oleh karena itu, ia mendorong pemerintah untuk menertibkan ormas yang beroperasi di luar batas hukum dan memastikan perlindungan bagi pengusaha agar bisa menjalankan bisnis tanpa tekanan dari pihak mana pun.

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Kasus Kematian MHS 15 Tahun, Lenny Damanik Adukan Putusan Hakim Militer ke Sejumlah Lembaga Negara

23 June 2026 - 19:07 WIB

Lenny Damanik bersama Koalisi Masyarakat Sipil saat menyampaikan pengaduan ke Bawas MA RI terkait putusan perkara Sertu Riza Pahlivi. Foto: LBH Medan

Kombes Pol. R. Bagoes Wibisono Resmi Jabat Dirressiber Polda Metro Jaya, Jejaknya dari Madiun, Malang hingga Siber Jatim

6 April 2026 - 22:49 WIB

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol. Asep Edi Suheri memimpin sertijab tiga pejabat utama, yakni Karorena, Dirreskrimsus, dan Dirressiber, di Lobby Gedung Promoter Polda Metro Jaya, Senin (6/4/2026).

Sopir Xenia Positif Sabu Tabrak 2 Pedagang Sayur hingga Tewas di Sidoarjo, Kronologi Kecelakaan Terungkap

28 March 2026 - 15:01 WIB

Detik-detik mobil Xenia menabrak dua perempuan di Jalan Raya Candi, Sidoarjo, hingga meninggal dunia terekam dalam video yang beredar di media sosial. (Foto: tangkapan layar video viral)

Oknum TNI Terduga Aniaya Warga Sula hingga Tewas Dibawa ke POM Ternate

26 March 2026 - 15:12 WIB

Oknum anggota TNI terduga pelaku penganiayaan yang menewaskan warga di Kepulauan Sula saat dikawal menuju mobil Polisi Militer untuk dibawa ke POM Ternate. (Sumber Foto: Istimewa)

Bahlil Buka Peluang Impor Minyak dari Brunei, Kerja Sama Listrik EBT Ikut Dijajaki

26 March 2026 - 15:09 WIB

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menggelar pertemuan bilateral dengan Wakil Menteri Energi Brunei Darussalam Dato Seri Paduka Awang Haji Mohamad Azmi Bin Haji Mohd Hanifah di Tokyo, Jepang, Minggu (15/3/2026). Foto: Kementerian ESDM
Trending on Ekonomi