Mahasiswa Vokasi UB Didorong Bermental Global, Alumni Ungkap Tantangan SDM Indonesia di Kancah Internasional

MALANG, PENAJATIM – Sekitar 400 mahasiswa Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya (UB) mendapat injeksi motivasi dalam kuliah tamu Departemen Bisnis dan Perhotelan, Rabu (25/2/2026).

Kegiatan ini tidak sekedar berbagi pengalaman, namun juga menanamkan pentingnya mentalitas global tanpa melupakan identitas dan kebangsaan.

Dosen UB, Mukhammad Kholid Mawardi, menyampaikan bahwa kuliah tamu ini sengaja menghadirkan sosok inspiratif seperti Ira Puspadewi untuk membuka wawasan mahasiswa.

Menurutnya, mahasiswa vokasi perlu memiliki pola pikir global agar mampu bersaing di tingkat internasional. Namun, ia mengingatkan bahwa kesempatan berkarier di luar negeri tidak dapat membuat generasi muda melupakan tanggung jawab terhadap Indonesia.

“Mahasiswa harus punya pola pikir global, tapi tetap memegang nilai-nilai lokal. Jangan lelah mencintai Indonesia,” ujarnya.

Kholid juga menekankan bahwa banyak pelajar Indonesia yang menempuh pendidikan melalui beasiswa yang bersumber dari dana negara. Oleh karena itu, ada kewajiban moral untuk berkontribusi kembali bagi bangsa.

“Beasiswa itu berasal dari pajak rakyat Indonesia. Jadi sudah sepatutnya kita memberi kontribusi, meskipun nanti berkarier di luar negeri,” tegasnya.

Sementara itu, Ira Puspadewi membagikan pengalaman panjang berkarier selama lebih dari 17 tahun di perusahaan ritel global asal Amerika Serikat. Ia menilai, kemampuan intelektual bukanlah kelemahan utama SDM Indonesia.

Justru, menurutnya, tantangan terbesar terletak pada mentalitas untuk bersaing di tingkat global.

“Orang Indonesia itu pintar-pintar, tapi mental untuk menjadi warga global masih tertinggal dibandingkan negara lain seperti India atau Filipina,” ungkapnya.

Ia mencontohkan, banyak tenaga kerja dari negara lain yang berani tampil percaya diri di panggung dunia, termasuk di pusat teknologi seperti Silicon Valley. Sementara itu, sebagian orang Indonesia masih terkendala rasa minder, terutama dalam komunikasi aktif dan keberanian mengambil peluang.

Selain itu, Ira juga menyoroti faktor ketahanan mental, termasuk kesiapan untuk hidup jauh dari keluarga saat berkarier di luar negeri. Padahal menurutnya, perkembangan teknologi saat ini telah mempermudah lintas negara.

“Sekarang video call bisa kapan saja. Jadi hambatannya bukan lagi teknologi, tapi mental,” katanya.

Ia pun mengajak mahasiswa untuk mulai membangun mental kompetitif dan rasa bangga sebagai bangsa Indonesia. Baginya, apa pun profesi yang dijalani di luar negeri, tujuan utamanya tetap sama: membawa nama baik Indonesia.

“Dimanapun kita ikut berkarya, yang penting bisa membuat Indonesia bangga. Kalau nama Indonesia harum, kesejahteraan kita juga akan terangkat,” tandasnya

Leave feedback about this

  • Rating