Problematika Penggunaan Bahasa Gaul Pada Generasi Muda

Pro Kontra Bahasa Gaul: Gaya Kekinian atau Komunikasi yang Terkesan Primitif?

Oleh: Asgar Dyas H., Irsyad Ibadurrahman, Novika Izzati, Salwa Nareta C., Shafa Dyar Ayu
November 16, 2025

VOICEOFJATIM – Setiap masa ada orangnya, setiap orang ada masanya. Begitu juga dengan penggunaan bahasa, teman-teman. Sebelum tahun 2000-an, penggunaan bahasa gaul modern belum begitu bermunculan. Hal ini diakibatkan terbatasnya ruang komunikasi yang ada pada masa itu. Namun, saat ini sudah banyak platform yang memfasilitasi ruang untuk berkomunikasi.

“Anjir! Lo cegil bet dah. Udah tau cuma hts, tapi pas doi deket sama yg lain malah marah😂”.

Teman-teman generasi milenial ke bawah pasti udah ga asing lagi dengan penggunaan bahasa ini. Bahasa gaul modern tersebut awalnya dapat kita jumpai di forum chatting atau komunitas online. Namun, setelah adanya media sosial seperti Instagram, Tiktok, Twitter, dan sebagainya. Kata ini pun semakin populer karena banyaknya remaja yang menggunakan bahasa gaul ini untuk konten mereka.

Fenomena penggunaan bahasa gaul semakin marak di kalangan generasi muda dan kini menjadi perhatian berbagai pihak, termasuk pendidik dan pemerhati bahasa. Berdasarkan hasil penelitian mahasiswa Universitas Brawijaya, penggunaan bahasa gaul yang masif terutama melalui media sosial telah memengaruhi kemampuan generasi muda dalam berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

Bahasa gaul yang awalnya digunakan sebagai ekspresi kreativitas dan identitas sosial, kini mulai terbawa dalam ranah formal, seperti tugas akademik dan komunikasi profesional. Kondisi
ini dinilai dapat menurunkan kemampuan literasi, tata bahasa, dan etika berbahasa formal pada
generasi muda.

Dalam wawancara yang dilakukan pada 10 Oktober 2025, beberapa mahasiswa mengungkapkan bahwa bahasa gaul dianggap lebih mudah, relevan, dan mengikuti tren dunia digital. Mereka juga menyatakan bahwa penggunaan bahasa gaul memberi kesan lebih santai dan dekat dalam komunikasi, meskipun disadari penggunaannya dapat berdampak negatif jika tidak dibatasi.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa fenomena bahasa gaul tidak sepenuhnya harus dihilangkan, namun penggunaannya perlu disesuaikan dengan situasi, terutama dalam konteks formal. Para peneliti merekomendasikan adanya edukasi, penguatan pembelajaran bahasa resmi, dan kesadaran berbahasa di kalangan pelajar, orang tua, dan lembaga pendidikan.

Bahasa gaul modern terlihat asik dan menyenangkan membuat komunikasi menjadi mengalir, sehingga lebih mudah membentuk pentemanan. Akan tetapi mengenai fenomena ini, teman-teman pernah gak sih kepikiran, ternyata bahasa gaul modern dapat menghancurkan

suatu negara loh.. Kok bisa? Yuk teman-teman luangkan waktu 5 menit untuk membaca dan mengetahui mengapa fenomena ini dapat berdampak besar.

Sisi Positif Bahasa Gaul (Pro)

1. Ekspresi Diri dan Kreativitas
Bahasa gaul memberi ruang bagi generasi muda untuk mengekspresikan perasaan dan ide dengan unik. Ungkapan seperti “ngabers” atau
“mager” menunjukkan bagaimana kreativitas linguistik mereka berkembang sesuai konteks sosial dan digital.

2. Mempererat Relasi Sosial

Bahasa gaul sering menjadi kode identitas kelompok. Dengan kata-kata yang lucu, santai, atau absurd, anak muda bisa memperkuat solidaritas,
mempererat pertemanan, dan merasa termasuk dalam komunitas tertentu.

3. Adaptasi Terhadap Perkembangan Zaman

Di era media sosial dan komunikasi
digital, bahasa gaul memudahkan remaja menyesuaikan diri dengan tren terkini, membuat interaksi lebih relevan dan emosional dibanding bahasa baku yang formal.

Sisi Negatif Bahasa Gaul (Kontra)

1. Komunikasi Terkesan Primitif atau Amburadul

Penggunaan bahasa gaul yang
berlebihan bisa membuat pesan sulit dipahami, terutama oleh orang yang tidak terbiasa dengan
kosakata kekinian.

2. Risiko Kesalahan Bahasa Formal

Terbiasa menulis atau berbicara dengan
bahasa gaul dapat mengganggu kemampuan menggunakan bahasa formal. Hal ini terlihat ketika pelajar kesulitan menyusun kalimat baku dalam tugas sekolah atau ujian.

3. Dampak Profesional dan Akademik
Di lingkungan formal, bahasa gaul yang
dominan dapat menurunkan kredibilitas dan kesopanan seseorang. Dalam konteks akademik dan pekerjaan, hal ini bisa memengaruhi citra diri dan efektivitas komunikasi.

Bahasa Gaul dan Ancaman Terhadap Bahasa Nasional

Fenomena bahasa gaul yang semakin masif membawa konsekuensi serius bagi bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa gaul membuat generasi muda lebih nyaman dengan ungkapan emosional daripada bahasa baku. Jika kebiasaan ini dibiarkan, kemampuan menulis dan berbicara formal bisa menurun, bahkan menimbulkan krisis identitas kebahasaan.

Bahasa Indonesia berpotensi mengalami nasib seperti bahasa Latin, hidup hanya di ruang akademik tapi kehilangan fungsi sosialnya. Jadi, meski bahasa gaul menyenangkan dan kreatif, jika tidak
diimbangi dengan literasi formal, ia bisa “mengikis” fondasi kebangsaan yang dibangun melalui bahasa bersama.

Kesimpulan

Bahasa gaul bukan sepenuhnya salah atau benar, teman-teman. Ia bisa menjadi sarana kreativitas dan mempererat hubungan sosial, tapi juga berisiko menurunkan kemampuan bahasa formal dan mengganggu citra diri di ranah profesional. Kuncinya adalah menggunakan bahasa gaul secara bijak: untuk pergaulan santai dan ekspresi diri, sambil tetap menjaga kemampuan komunikasi formal agar identitas kebahasaan nasional tetap terjaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *